Sikapi Konflik dan Krisis Internal yang Berkepanjangan, UKSW Kedepankan Dialog Gerejawi

Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) hadir dalam acara Dialog Civitas Academica UKSW dengan Pembina YPTKSW, Rabu, 4 Juni 2025
Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) hadir dalam acara Dialog Civitas Academica UKSW dengan Pembina YPTKSW, Rabu, 4 Juni 2025 (KalderaNews/Dok. UKSW)
Sharing for Empowerment

SALATIGA, KalderaNews.com – Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali membuka ruang dialog dengan sivitas akademika pada Rabu (4/6) bertempat di Balairung UKSW.

Acara ini merupakan kelanjutan dari forum terbuka sebelumnya yang kali ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), Pendeta Dr. Alfred Y.R. Anggui, M.Th.

Dialog dengan semangat persaudaraan ini secara khusus mengedepankan “percakapan dalam suasana gerejawi” untuk menampung aspirasi dari berbagai elemen kampus di tengah konflik dan krisis internal yang berkepanjangan dan berlarut-larut.

BACA JUGA:

Pendeta Alfred Y.R. Anggui menyampaikan terima kasih atas kehadiran semua pihak dan menekankan bahwa tujuan dialog ini adalah untuk kebaikan UKSW. “Percakapan kita adalah dalam suasana gerejawi,” ujarnya merujuk pada undangan yang telah disebarkan.

Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami, menyambut baik kesempatan ini. “Terima kasih kepada pembina yang telah memberi ruang percakapan. Ini menjadi refleksi penting bagi saya sebagai pimpinan universitas. Kami tidak pernah menganggap mahasiswa sebagai pihak yang diabaikan. Kami sangat terbuka untuk berkomunikasi,” tegasnya.

Dialog ini dihadiri oleh jajaran pembina, pengurus, dan pengawas YPTKSW, serta rektor beserta wakil rektor dan anggota senat universitas, termasuk dekan, guru besar, pimpinan senat mahasiswa, dan perwakilan tenaga kependidikan. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dari setiap fakultas juga turut berpartisipasi, bahkan mahasiswa dari berbagai fakultas diizinkan hadir di balkon Balairung.

Rektor Intiyas Tanggapi Aspirasi

Sekitar 20 orang, terdiri dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan alumni, berkesempatan menyampaikan aspirasi mereka. Salah satu pertanyaan kritis yang mengemuka kepada Rektor Intiyas adalah seputar pemaknaan SATUHATI (Sinergis Patuh Harmonis Teladan Integritas) dan pakta integritas bagi dosen serta tenaga kependidikan di UKSW.

Rektor Intiyas menjelaskan bahwa SATUHATI merupakan slogan komitmen kerja yang ia usung saat pemilihan Rektor, dilandasi oleh motto UKSW: “Takut akan Tuhan sebagai permulaan pengetahuan” (Amsal 1:7a). Ia menegaskan bahwa nilai “takut akan Tuhan” dimaknai sebagai sikap tunduk, hormat, dan rendah hati di hadapan sumber segala hikmat dan kebenaran, bukan ketakutan semata.

Rektor Intiyas memberikan tanggapan dalam Dialog Civitas Academica UKSW dengan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), Rabu (4/6) malam di Balairung UKSW (KalderaNews/Dok. UKSW)

Lebih lanjut, ia merinci prinsip-prinsip SATUHATI. Sinergis (Membangun kerja sama lintas unit secara berkelanjutan.) Patuh (Mencerminkan kepatuhan terhadap firman Tuhan, peraturan, dan etika institusi). Harmonis (Mengedepankan keharmonisan relasi dalam keberagaman). Teladan (Mendorong setiap pribadi menjadi panutan dan meneladani Kristus sebagai pemilik UKSW). Integritas (Menuntut kejujuran serta konsistensi dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagai kampus Kristen).

Terkait pakta integritas SATUHATI, Rektor menegaskan bahwa hal tersebut bukan untuk mengekang kebebasan bersuara, melainkan untuk memperkuat kesadaran bahwa UKSW adalah kampus yang menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai Kristiani.

Aspirasi mengenai perbaikan infrastruktur, seperti fasilitas internet, komputer, dan pemutakhiran laboratorium, direspons positif oleh Rektor Intiyas. Ia berkomitmen untuk mengintensifkan komunikasi demi solusi konkret.

Mengenai tuduhan otoriter terkait pemberhentian pejabat di Fakultas Hukum, Rektor Intiyas menyatakan bahwa hal tersebut telah dijelaskan pada forum terbuka sebelumnya dan akan dilanjutkan dengan percakapan pastoralia yang dipandu oleh Pembina YPTKSW.

UKSW Berkomitmen pada Dialog dan Nilai Kristiani

Kegiatan dialog ini menjadi bukti nyata bahwa UKSW, meskipun di tengah berbagai demonstrasi yang mungkin terjadi, tidak menutup diri dari dialog. Universitas ini ingin memberi ruang bagi proses pertumbuhan budaya komunikasi yang terbuka.

Para Pembina YPTKSW berpesan agar dialog dilakukan dalam suasana gerejawi yang menjunjung tinggi nilai kekristenan dan semangat persaudaraan. Pimpinan UKSW menegaskan komitmennya untuk mengembangkan komunikasi yang terbuka dan evaluatif, serta menyelenggarakan komunitas akademik yang berakar pada kesadaran untuk menyegani Tuhan, diwujudkan dalam karya yang bertanggung jawab, integritas diri dalam kasih, dan bekerja demi kebaikan bersama.

Pada bagian akhir dialog, para pembina memberikan pesan pastoral dan reflektif agar semua pihak mawas diri, mengembangkan komunitas dalam semangat dialog, sembari tetap menjalankan tugas, tanggung jawab, panggilan, dan pelayanan masing-masing di kampus tercinta.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul yang telah berdiri sejak 1956, UKSW memiliki 15 fakultas dan 64 program studi (31 di antaranya Unggul/A) dari jenjang D3 hingga S3. UKSW, yang dikenal sebagai “Kampus Indonesia Mini” dan “Creative Minority” terus berkomitmen untuk memperbaiki diri, mendengar suara warganya, dan berjalan bersama dalam terang iman, akal sehat, dan kasih yang membebaskan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


3,540 views