
TANGERANG SELATAN, KalderaNews.com- Sejumlah pelajar di SMK Negeri 8 Tangerang Selatan masih harus menjalani proses belajar sambil duduk di lantai beralaskan karpet.
Hal ini terjadi karena hingga saat ini sekolah tersebut belum mendapatkan pengadaan meja dan kursi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.
Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana, Muraja, menyampaikan bahwa kekurangan ini telah terjadi sejak sekolah tersebut dibuka dan mulai menerima siswa angkatan pertama pada tahun 2023.
BACA JUGA:
- Pilu! Siswa SDN Bedono 1 Demak Harus Belajar di Kolong Jembatan Imbas Gedung Sekolah Dikunci Kontraktor
- Viral! Laporan Pencurian di KFC Batam Berujung Pidana, Guru SMAN Jadi Terlapor
- Viral! Siswa SD di Maros Keliling Minta Sumbangan di Jam Belajar, Tujuan Baik Tapi Keliru
Saat itu, hanya tersedia 90 kursi untuk lebih dari 200 siswa. Sekolah pun terpaksa meminjam perlengkapan dari sekolah induk guna menutupi kekurangan.
Masih ada 12 kelas yang belum mendapat meja kursi
Namun, hingga kini kondisi tersebut belum membaik. Bahkan ketika siswa angkatan ketiga telah diterima tahun ini, jumlah meja dan kursi yang tersedia masih sangat terbatas.
“Kurangnya sekitar 500-an meja dan bangku. Jumlah kelas ada 18 yang ada bangku meja 6 kelas. Dua tahun terakhir ini. Dari pertama pembangunan belum ada pengiriman bangku lagi,” ungkap Muraja, Selasa (29/7).
Tak hanya perabotan, Muraja menjelaskan bahwa sekolah juga mengalami kekurangan ruang kelas. Totalnya, SMKN 8 Tangsel masih membutuhkan enam ruang kelas agar seluruh siswa bisa belajar dengan lebih layak.
“Kondisi kita masih kurang 6 kelas. Satu kelas 36. Sekarang kelas 12 lagi PKL aja nih,” tambahnya.
Menurut Muraja, pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan permohonan pengadaan sarana belajar ke Dinas Pendidikan Provinsi, tetapi belum ada kepastian waktu pengiriman.
“Tahun lalu sebenarnya sudah diajukan, tapi karena saat itu Pemprov sedang menyelesaikan pembangunan SMKN 15, kami diminta bersabar. Katanya, anggaran sedang difokuskan ke sana dulu,” jelasnya.
Memang, tim dari provinsi sudah meninjau langsung dan menyampaikan bahwa pembangunan lanjutan seperti lapangan sekolah akan dimulai Agustus. Meski begitu, belum ada informasi resmi mengenai pengiriman fasilitas kelas lainnya.
Kondisi di lapangan memperlihatkan adanya ruang kelas yang mulai rusak. Beberapa tembok terlihat lusuh, dan bagian atap sudah ada yang bocor.
Puluhan siswa pun harus duduk bersila di lantai kelas sambil mengikuti pelajaran. Tas dan perlengkapan belajar mereka diletakkan di lantai, sementara guru tetap mengajar seperti biasa di depan kelas.
Sebelum memasuki ruang kelas, para siswa melepas sepatu agar lantai tetap bersih. Meski proses belajar tetap berjalan, beberapa siswa mengaku tidak nyaman.
“Di sini kami ada tiga jurusan, ada wisata, perhotelan, spa and beauty teraphy,” pungkas Muraja.
Disdik buka suara terkait masalah kursi meja di SMKN 8
Menanggapi hal ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten menyatakan bahwa pengadaan mebel untuk SMKN 8 akan segera direalisasikan.
Kepala Kantor Cabang Dinas Wilayah Tangsel, Teguh Setiawan menegaskan bahwa kondisi siswa yang belajar tanpa meja kursi bukan karena kelalaian, tetapi karena sarana memang belum terpenuhi secara menyeluruh.
“Jadi memang kondisinya bukan lesehan, karena memang saat ini ada beberapa rombel yang belum, mebelnya belum datang. Dan mudah-mudahan di tahun ini sudah bisa direalisasikan untuk pengadaan mebeler. Itu juga bukan karena lesehan, tapi memang sedang ada program pengayaan anak kelas 10, jadi memang kondisinya dua rombel belajar seperti biasa,” terang Teguh.
Ia menjelaskan bahwa program pengayaan siswa kelas 10 sedang berlangsung, dan dua rombel tetap menjalani proses pembelajaran walaupun belum ada fasilitas meja dan kursi.
“Diusahakan mudah-mudahan dalam waktu satu minggu sudah ada pengiriman mebeler untuk ruangan-ruangan yang belum ada fasilitas meja dan kursi. Sebetulnya bukan belum bisa dikirim, kita sudah mengajukan (pihak sekolah) untuk penambahan mebeler di RHP yang di rombongan belajar yang masih belum ada fasilitas meja dan kursi,” tambahnya.
Teguh menuturkan, sekolah telah mengajukan permintaan lewat Rencana Hasil Pengadaan (RHP), namun prosesnya tidak bisa langsung dipenuhi karena harus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah lain di wilayah yang sama.
“Karena kalau anggaran itu sifatnya tidak langsung serta merta direalisasikan, jadi anggaran itu tidak hanya untuk SMK 8 saja, di wilayah selatan juga masih banyak sarana prasarana yang segera dipenuhi. Jadi memang artinya secara bertahap, apalagi ini berbasis anggaran,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply