
JAKARTA, KalderaNews.com – Pantuan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) sampai September 2025, sekira 5.360 anak jadi korban keracunan akibat menu MBG.
Jumlah ini bisa dipastikan lebih besar, sebab banyak sekolah dan pemerintah daerah justru memilih menutupi kasus seperti ini.
Fakta ini, kata JPPI, menunjukkan program MBG sudah gagal melindungi anak, bahkan berubah menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi bangsa.
BACA JUGA:
- Ramai, Ada Perjanjian MBG di Blora, Jika Terjadi Keracunan Minta Dirahasiakan
- Waduh, Orangtua Harus Teken Surat Tidak Tuntut Keracunan MBG
- Duh, Ratusan Siswa Kompak Tidak Masuk Sekolah Gegara Keracunan Menu MBG
“Dalam pekan ini, korban keracunan setelah menyantap hidangan MBG mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah maupun sebaran,” ujar Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji.
Presiden dan BGN harus bertanggung jawab!
Maka, JPPI dengan tegas menyatakan, Presiden dan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak boleh lagi menutup mata terhadap tragedi berulang program MBG.
JPPI menegaskan, Presiden dan BGN tidak bisa lagi hanya mengandalkan jargon “zero incident”, sementara insiden keracunan terjadi di berbagai daerah.
Ubaid menegaskan, pemerintah tak boleh bermain-main dengan nyawa anak bangsa.
“Kami tidak tega melihat anak-anak yang harus dilarikan ke rumah sakit, berjuang dengan selang infus di tangan mungil mereka, bahkan ada yang nyawanya hampir melayang.”
“Presiden dan BGN jangan sekali-kali bermain-main dengan nyawa anak-anak bangsa. Jika program ini benar-benar berpihak pada anak, hentikan sekarang juga sebelum lebih banyak korban berjatuhan,” tegas Ubaid Matraji.
“Presiden harus bertanggung jawab. Jangan jadikan anak-anak sekolah sebagai kelinci percobaan dari kebijakan yang dipaksakan tanpa kesiapan. Kalau Presiden serius dengan janji melindungi generasi emas, maka hentikan MBG sekarang juga dan lakukan evaluasi total.”
Istana minta maaf, cukupkah?
Sementara, Jumat, 19 September 2025 lalu, pihak Istana Negara menyampaikan permohonan maaf dan menyiapkan sanksi terhadap pihak yang terbukti melakukan kelalaian.
“Kami atas nama pemerintah dan mewakili Badan Gizi Nasional memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah, yang tentu saja itu bukan sesuatu yang kita harapkan dan bukan suatu kesengajaan,” kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi di Istana Negara.
Prasetyo menegaskan, peristiwa keracunan MBG menjadi bahan evaluasi dan catatan pemerintah.
Seluruh pihak terkait, khususnya Badan Gizi Nasional (BGN) telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan seluruh siswa terdampak mendapatkan penanganan secepat dan sebaik mungkin.
“Tentu harus dilakukan upaya evaluasi, termasuk mitigasi perbaikan supaya masalah-masalah seperti ini tidak terulang kembali,” jelas dia.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply