Tagar Boikot Trans7 Hebohkan Dunia Maya, Tayangan Xpose Dianggap Hina Pondok Pesantren

Boikot Trans7 menggema di media sosial
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com-  Dunia maya kini tengah diguncang oleh maraknya seruan bertagar #BoikotTrans7.

Aksi ini dipicu oleh tayangan program Xpose di Trans7 yang dianggap menyinggung sosok ulama sepuh dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Tagar tersebut pertama kali ramai di platform X (Twitter) dan Instagram, kemudian menyebar luas ke TikTok serta Facebook.

Berdasarkan pemantauan, ribuan unggahan bertagar serupa muncul disertai komentar dari santri, alumni, hingga masyarakat umum.

BACA JUGA:

Program Xpose Trans7 menuai kritik karena dianggap menampilkan narasi yang “memojokkan” seorang ulama sepuh dari Lirboyo.

Dalam potongan video yang beredar, sosok tersebut digambarkan secara negatif tanpa adanya konfirmasi langsung. Kondisi inilah yang memicu kemarahan publik, terutama di kalangan santri.

Sejak Selasa pagi, akun resmi Trans7 di berbagai platform media sosial dibanjiri kritik dan kecaman. Banyak komentar berisi kalimat seperti “Hina ulama sama dengan menghina ilmu” dan “Trans7 keterlaluan, minta maaf sekarang juga.”

Trans7 Dianggap Salahi Etika Jurnalistik

Warganet mendesak agar pihak Trans7 segera menghapus tayangan tersebut sekaligus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Hingga Selasa siang (14/10), #BoikotTrans7 berhasil menempati posisi trending di platform X wilayah Indonesia.

Akun-akun seperti Santri Keren, NU Garis Lucu, dan Cahpondok ikut memperkuat seruan boikot dengan mengunggah potongan video Xpose yang dinilai bermasalah, lengkap dengan ajakan untuk berhenti menonton Trans7 sampai klarifikasi resmi disampaikan.

Adapun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kediri secara resmi mengeluarkan pernyataan mendesak Trans7 agar meminta maaf dan memberikan klarifikasi dalam waktu 1×24 jam.

Apabila tidak direspons, LBH Ansor bersama Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) siap menempuh jalur hukum.

Mereka menilai tindakan Trans7 telah menyalahi etika jurnalistik karena tidak memberikan hak jawab kepada pihak pesantren.

Gelombang solidaritas terhadap santri Lirboyo juga datang dari berbagai daerah. Para alumni pesantren dari Jombang, Nganjuk, hingga Pasuruan turut menyuarakan dukungan lewat media sosial.

Sejumlah tokoh santri juga menyerukan agar media nasional lebih berhati-hati dalam memberitakan tokoh agama dan isu pesantren agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*