Jeblok Blok! Skor Matematika TKA SMA 2025 Sangat Rendah, Mendikdasmen Ungkap Penyebab

Ujian Nasional berbasis komputer
Sejumlah siswa tengah mengerjakaan soal - soal Ujian Nasional dengan menggunakan Komputer atau Computer Based Test (CBT) ( ANTARA FOTO/Muhammad Iqba)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA tahun 2025 mengejutkan publik. Skor Matematika TKA 2025 jeblok-blok!

Demikian diungkap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti.

“Saya bocorkan di sini, TKA 2025 yang kita selenggarakan itu matematikanya juga jeblok-blok-blok-blok,” tegas Menteri Mu’ti dalam Munas Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta.

BACA JUGA:

Bukan siswa bodoh, literasi numerasi “kureng”!

Meskipun hasilnya memprihatinkan, Menteri Mu’ti buru-buru meluruskan.

Ia menegaskan bahwa rendahnya skor ini bukan disebabkan karena siswa-siswi jenjang SMA sederajat di Indonesia “bodoh: dalam mengerjakan soal matematika.

Menurutnya, masalah utama terletak pada rendahnya budaya numerasi dan anggapan bahwa Matematika adalah materi yang sulit.

Anggapan ini muncul, salah satunya, karena buku pelajaran yang digunakan dan cara guru mengajarkan tidak membuat siswa tertarik dan senang untuk terus belajar.

Dampak dari rendahnya numerasi ini sangat serius, sebab terus memengaruhi skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang cenderung menurun.

Jurus pemerintah bangkitkan STEM

Menghadapi kondisi ini, pemerintah segera mengambil langkah konkret. Mu’ti menjelaskan, kementerian tengah menyiapkan strategi besar untuk membuat anak-anak mencintai pelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Math).

Strategi yang digulirkan adalah pengembangan buku-buku sains yang menerapkan metode 3M: Mudah, Murah, dan Menyenangkan.

Selain itu, pemerintah juga menggulirkan Gerakan Numerasi Nasional. Gerakan ini bertujuan membangun budaya numerasi sejak dini, bahkan didorong untuk dimulai dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK).

Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, dan adaptif dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami mendorong Matematika mulai diajarkan dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK), lewat konsep dasar dan kegiatan bermain logika yang sederhana,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*