
BANTUL, KalderaNews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai keluhan dari wali murid. Kali ini, keluhan datang dari orang tua siswa di SD Pangudi Luhur ST Aloysius (PL) Sedayu.
Keluhan tersebut mencuat setelah beredarnya video di akun Instagram @carolinelintangnew yang menyebut menu ikan bandeng presto dan tahu yang dibagikan kepada siswa masih dalam kondisi mentah.
Caroline Lintang menjelaskan bahwa menu tersebut dibagikan pada Jumat (6/3) sebagai jatah MBG untuk hari Sabtu. Ia menyebut sebelumnya jatah makanan untuk dua hari tersebut memang biasanya diberikan oleh SPPG Argosari Sedayu, namun dalam kondisi sudah matang.
BACA JUGA:
- Video Ulat di Menu MBG SMP Pasundan 9 Bandung Viral, Oknum Guru Diduga Gelar Sayembara Cari Penyebarnya
- Ratusan Siswa dan Guru di Kubu Raya Tolak Menu MBG Ramadan, Apa Penyebabnya?
- Viral! Kepsek di Salatiga Protes Menu MBG, Temukan Buah Busuk hingga Ulat, SPPG Akui Lalai
Menurut Caroline, pemberian makanan dalam kondisi mentah dinilai kurang tepat karena jika harus dimasak kembali di rumah, hasilnya dikhawatirkan tidak sesuai dengan standar produksi program MBG.
“Kalau menurut saya dikasih mentah begitu kurang pas, karena kalau cuma diproses di rumah nanti jadi tidak sesuai standar dari SOP produksi MBG,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pada pekan sebelumnya, menu yang dibagikan untuk hari libur masih berupa makanan yang siap dikonsumsi, seperti telur puyuh rebus, roti, buah kelengkeng, dan kacang telur. Makanan tersebut tetap layak dimakan meskipun dibagikan pada hari Jumat.
“Sama anak saya (ikan dan tahu) langsung dikasih utinya (nenek) karena dia nggak mau makan itu,” tuturnya.
Penjelasan Pemkab Bantul
Menanggapi keluhan tersebut, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul Hermawan Setiaji menjelaskan bahwa menu ikan bandeng presto sebenarnya sudah matang dan hanya perlu dipanaskan kembali sebelum dimakan.
Hal yang sama juga berlaku untuk tahu ungkep berbumbu kuning yang diberikan kepada siswa. Jika tidak langsung dikonsumsi, makanan tersebut juga bisa disimpan terlebih dahulu di dalam kulkas.
“Itu matang, bisa langsung dimakan,” katanya.
Hermawan juga merinci komposisi menu MBG yang diberikan pada Sabtu (7/3). Untuk porsi kecil, menu tersebut terdiri dari roti pisang seharga Rp2.500, bandeng presto Rp4.500, serta dua potong tahu ungkep seharga Rp1.000.
Menu tersebut mengandung sekitar 350,6 kkal energi, 20,8 gram protein, 12,2 gram lemak, 43,1 gram karbohidrat, serta 4,8 gram serat.
“Sebenarnya kemarin sudah diperingatkan membuat menu nggak usah yang aneh-aneh walaupun dari aspek gizi masuk,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa menu tersebut baru dilaporkan terjadi di SD PL Sedayu. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada SPPG di wilayah Bantul agar terlebih dahulu mengomunikasikan menu yang akan diberikan kepada pihak sekolah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Yang masuk laporan baru sekolah itu,” tuturnya.
Klarifikasi Kepala SPPG Argosari
Secara terpisah, Kepala SPPG Argosari, Muhammad Labib Jalali, memberikan klarifikasi terkait menu bandeng dan tahu yang sempat menjadi sorotan. Ia menegaskan bahwa kedua menu tersebut sebenarnya sudah dimasak.
Menurutnya, ikan bandeng sudah melalui proses pengukusan, sedangkan tahu telah diolah dengan metode ungkep. Hanya saja, makanan tersebut tidak diberi bumbu tambahan sehingga tampilannya terlihat seperti belum dimasak.
“Kan anaknya (anak dalam unggahan video) bilang ikan mentah. Padahal kan itu sudah matang dan saya sudah memastikan sendiri pada jam 03.00 WIB di dapur ini bandeng mentah atau sudah matang. (Tim juru masak menjawab) sudah matang, sudah dikukus,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa tahu kuning yang disajikan telah diungkep sehingga sebenarnya sudah siap dikonsumsi.
“Kebetulan menu kita yang minggu ini yang ungkep dan dikukus, karena menanggapi dari pihak sekolah ada yang komentar kok menunya roti terus. Jadi, kami ganti dengan ayam ungkep, tahu ungkep, tempe ungkep, tempe kukus, sama bandeng yang terakhir disajikan pada hari Sabtu,” ujarnya.
Labib menjelaskan bahwa saat itu penerima menu MBG basah hanya SD PL Sedayu. Hal ini karena sebagian besar sekolah lain sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, sedangkan siswa di sekolah tersebut tidak melaksanakan puasa.
Oleh karena itu, pada hari Senin hingga Jumat tetap disajikan makanan basah menggunakan ompreng seperti biasa. Sementara khusus hari Sabtu, sekolah tersebut menerima menu kering seperti sekolah penerima MBG lainnya.
Ia menambahkan bahwa selama Ramadan, sejumlah sekolah yang menerima menu kering berupa makanan rebus atau ungkep sejauh ini tidak menyampaikan keluhan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply