Viral! Kepsek di Salatiga Protes Menu MBG, Temukan Buah Busuk hingga Ulat, SPPG Akui Lalai

Kepala sekolah di Salatiga memprotes menu MBG (KalderaNews/Tangkapan layar TikTok@kabarin.aja)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Salatiga menjadi perhatian publik setelah video protes Kepala SDN Dukuh 5, Jumarti, beredar luas di media sosial.

Peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada 24 Februari 2026. Saat itu, Jumarti sengaja merekam video sebagai bukti dan dokumentasi internal terkait kondisi makanan MBG yang dinilai tidak layak. Namun, rekaman tersebut kemudian viral di media sosial pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam video yang salah satunya diunggah akun TikTok @kabarin.aja, Jumarti secara tegas menolak makanan yang dikirim oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

BACA JUGA:

“Ini tolong diambil dan saya tidak mau terima, saya sudah berkali-kali mbak,” ucapnya,

Temukan makanan tak layak

Jumarti mengungkapkan bahwa ia telah beberapa kali menerima makanan MBG dalam kondisi yang tidak layak konsumsi.

“Pertama ada ulatnya, ahli gizi bagaimana? Ada sekrupnya, ahli gizi bagaimana? Sekarang ada seperti ini. Ini sudah telak, jelek sekali,” ujarnya.

“Anak saya kalau meninggal gimana Mbak, dikasih (makanan) busuk seperti ini?” imbuhnya.

Ia juga menyoroti kondisi buah jeruk yang dibagikan dalam keadaan busuk.

“Jeruk busuk saya tidak beli, walaupun semiskin-miskinnya orang sini, jeruk busuk mau, nggak?” tegasnya.

Menurut pengakuannya, protes terhadap menu MBG bukan kali pertama dilakukan. Ia menyebut sudah lima hingga enam kali menyampaikan keluhan kepada pihak SPPG, termasuk jika terdapat susu atau nasi yang kurang baik maupun rasa makanan yang terlalu asin.

“Misal kalau ada susu atau nasi yang kurang, atau rasa keasinan, itu saya sampaikan ke SPPG,” ujarnya.

“Kalau komplain mungkin lima atau enam kali, tapi selama itu pula respons dari SPPG sangat cepat dan bagus. Harapan saya, jangan saya komplain terus, dari SPPG juga ada perbaikan internal,” kata Jumarti.

Soroti harga dan anggaran

Selain kualitas makanan, Jumarti juga mempertanyakan harga per porsi MBG, khususnya pada menu roti.

“Anda bilang ini (roti) berapa? Saya ini pedagang, ini di sana Rp750 karena saya biasa ambil di pabriknya, ini sama. Kalau dijual Rp3.500, berapa keuntungannya?” lanjutnya.

Ia pun mengingatkan bahwa pendanaan program MBG bersumber dari anggaran negara.

“MBG jangan dianggap gratis, Rp15.000 itu dari pajak rakyat, dari guru. Gajinya pada dipotong, tau nggak? Gaji kami yang dulu dipotong 15 persen sekarang 16 persen, yang kemarin 5 persen, sekarang 6 persen karena untuk MBG,” terangnya.

“Kayak gitu kok dikasih begini. Gimana? Mau saya laporkan ke satgas karena saya punya bukti dan video,” sambungnya.

Ia bahkan menegaskan agar pihak SPPG segera melakukan pembenahan.

“Bagaimana? Mau beri yang terbaik atau saya pindah? Kalau beri yang terbaik, akan dinilai terus. Jangan main-main, saya udah 3 kali 4 kali komplain,” tegasnya.

Jumarti menyatakan tujuannya semata-mata agar pelayanan diperbaiki, bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Ia berharap kualitas menu MBG semakin terjamin, terutama di bulan Ramadan ketika siswa membutuhkan asupan gizi seimbang.

“Meskipun hanya tiga menu, tapi asupan gizinya yang seimbang. Kalau karbohidrat sudah banyak di rumah, harus diimbangi protein dan menu lain dari MBG,” ujarnya.

SPPG akui lalai

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala SPPG Sawahan Kecandran, Sarah Alfi Maiza, mengakui adanya kekeliruan dalam proses distribusi buah.

“Saat di bagian pemorsian, ada 8-10 buah kurang layak yang lolos, itu kondisinya gembur di dalam mika. Sehingga sempat terdistribusi,” ujarnya.

Setelah insiden itu, pihak SPPG melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk menerapkan tiga tahap penyortiran mulai dari proses peracikan, memasak, hingga pemorsian.

” Kami terus melakukan evaluasi dan perbaikan. Terkait kejadian di SD Negeri Dukuh 05 sudah clear dan mediasi, tidak ada masalah, soal menu juga komunikasi dengan sekolah,” kata dia.

SPPG Sawahan saat ini melayani 3.284 penerima manfaat di 20 sekolah. Khusus di SDN Dukuh 5, terdapat 158 siswa penerima manfaat program MBG.

Meski sempat viral, kedua belah pihak menyatakan persoalan telah dimediasi dan diselesaikan dengan komitmen perbaikan ke depan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*