
Gubernur Pramono Anung tegaskan kampus IKJ tidak pindah ke Kota Tua, namun mahasiswa akan diberi ruang ekspresi di gedung khusus.
JAKARTA, KalderaNews.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait simpang siur rencana pemindahan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta Utara.
Setelah melalui kajian mendalam, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memutuskan untuk tidak memboyong seluruh kegiatan belajar mengajar kampus seni legendaris tersebut dari Cikini.
BACA JUGA:
- Gubernur Pramono Izinkan WFH dan Belajar dari Rumah Ketika Jakarta Dilanda Hujan Lebat
- Pramono Anung Resmikan Gereja Katolik Paroki Kalvari di Lubang Buaya, Jakarta Timur
- Gubernur Jakarta Pramono Anung Siapkan KJMU dengan Pola LPDP untuk Mahasiswa Kurang Mampu, Bisa Kuliah ke Luar Negeri!
Pramono menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memfasilitasi para seniman dan mahasiswa untuk menghidupkan ekosistem budaya di Kota Tua tanpa harus memindahkan institusi pendidikannya secara fisik.
Penyediaan Ruang Ekspresi, Bukan Pemindahan Kampus
Dalam keterangannya di Balai Kota Jakarta, Kamis (9/4) lalu, Pramono meluruskan bahwa yang disiapkan oleh Pemprov DKI adalah fasilitas khusus atau gedung yang didedikasikan bagi mahasiswa IKJ dan para seniman untuk berekspresi.
“Jadi saya ingin meluruskan, IKJ nanti ataupun seniman-seniman akan kita kasih ruang tempat untuk berekspresi seluas-luasnya di Kota Tua. Bahwa nanti akan ada gedung yang kami persiapkan untuk IKJ, iya,” ujar Pramono.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa denyut kesenian tetap terasa di Kota Tua, namun tetap menjaga fungsi utama kawasan tersebut sebagai destinasi wisata sejarah dan cagar budaya yang inklusif.
Alasan Pembatalan Relokasi Berdasarkan Kajian
Keputusan untuk membatalkan pemindahan kampus secara utuh bukan tanpa alasan. Berdasarkan evaluasi terbaru, memaksakan pemindahan kampus ke tengah kawasan wisata justru berisiko mengaburkan fokus penataan Kota Tua.
Beberapa poin utama yang menjadi pertimbangan antara lain:
- Pelestarian Nilai Kultural: Kota Tua dirancang sebagai “Amsterdam-nya Indonesia” yang mengedepankan perawatan gedung bersejarah.
- Target Segmentasi Wisata: Kawasan ini diarahkan sebagai destinasi yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat menengah ke bawah, terutama mereka yang menggunakan transportasi umum seperti KRL dan nantinya MRT.
- Keseimbangan Ekosistem: Menghadirkan kegiatan seni dianggap lebih efektif sebagai “pemantik” keramaian daripada memindahkan fungsi administratif dan akademik kampus.
Integrasi dengan Transportasi Publik (TOD)
Penataan Kota Tua juga berkaitan erat dengan proyek Transit Oriented Development (TOD). Dengan rampungnya jalur MRT menuju Kota Tua yang diprediksi pada tahun 2029, kawasan ini diharapkan menjadi hub ekonomi kreatif yang efisien.
Perbaikan sarana prasarana dasar seperti jalan, pedestrian, dan normalisasi sungai direncanakan mulai dilakukan secara masif pada awal 2026.
Revitalisasi ini bertujuan untuk menarik wisatawan mancanegara dari Eropa hingga Asia, sekaligus memberikan ruang bagi pejuang ekonomi kreatif (ekraf) untuk membangun jejaring.
Harapan untuk Masa Depan Kesenian Jakarta
Meskipun kampus utama tetap berada di lokasinya saat ini, kehadiran gedung khusus IKJ di Kota Tua diharapkan menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk langsung berinteraksi dengan publik.
Dengan adanya panggung kesenian yang berkelanjutan, Kota Tua tidak hanya akan menjadi deretan gedung tua yang mati, melainkan ruang publik yang hidup, rapi, dan tetap memegang teguh identitas kesenian Jakarta.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply