Kisah Pilu Guru Honorer Yustina, Jalan 6 Km Digaji Rp150.000 per Bulan

Kisah Pilu Guru Honorer Yustina, Jalan 6 Km Digaji Rp150.000 per Bulan (KalderaNews/Ist)
Kisah Pilu Guru Honorer Yustina, Jalan 6 Km Digaji Rp150.000 per Bulan (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Kisah guru honorer Yustina di NTT, 11 tahun mengabdi dengan gaji Rp150 ribu per bulan demi pendidikan anak pelosok.

SIKKA, KalderaNews.com- Di tengah janji pemerintah terkait peningkatan kesejahteraan guru, masih banyak tenaga pendidik di daerah terpencil yang menghadapi realitas berat, terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satu provinsi yang masuk wilayah 3T.

Di Kabupaten Sikka, Flores, perjuangan guru honorer seperti Yustina Yuniarti menjadi gambaran nyata kerasnya medan pengabdian demi pendidikan.

Sejak 2016, ia mengajar di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, dengan dedikasi tinggi meski kondisi yang dihadapi sangat terbatas.

BACA JUGA:

Harus rela berjalan kaki 6 km setiap harinya

Setiap hari, Yustina harus menempuh perjalanan sulit menuju sekolah. Setelah menumpang kendaraan warga, ia masih harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer melewati jalan berbatu, hutan, pesisir pantai, hingga jalur curam di tepi jurang.

“Saya sudah mengabdi 11 tahun. Setiap pagi saya berjalan melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer. Meski berat, saya lakukan ini demi anak-anak di sini,” ujar Yustina.

Perjuangan panjang tersebut berbanding terbalik dengan penghasilan yang diterimanya. Yustina hanya memperoleh honor Rp150 ribu per bulan dari iuran komite sekolah.

Bahkan, pada awal pengabdiannya, ia hanya menerima Rp15 ribu setiap bulan. Meski nominal kini meningkat, jumlah tersebut tetap jauh dari layak.

“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tuturnya.

Selain kekurangan guru, sekolah juga keterbatasan fasilitas

Kepala SDK Wukur, Tersiana Siti Rosa, menjelaskan bahwa dari delapan tenaga pengajar di sekolah tersebut, hanya satu yang berstatus ASN, sedangkan tujuh lainnya merupakan guru honorer.

“Honor tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Namun, karena semangat mengabdi, mereka tetap bertahan mengajar,” ungkap Tersiana.

Selain rendahnya honor, keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan besar. Sekolah dengan 34 siswa itu kekurangan ruang kelas, sehingga satu ruangan harus dibagi untuk dua kelas menggunakan sekat sederhana.

Minimnya sarana juga terlihat dari tidak tersedianya akses internet. Untuk mengikuti ANBK, guru dan siswa harus pergi ke kampung lain agar dapat menggunakan fasilitas sekolah lain.

“Kami juga berharap, jika ada seleksi CPNS, guru-guru swasta di daerah terpencil seperti kami dapat diprioritaskan,” harapnya.

Kisah Yustina mencerminkan perjuangan banyak guru honorer di pelosok Indonesia yang tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Dengan segala kekurangan, mereka terus berupaya menjaga hak pendidikan anak-anak demi masa depan yang lebih baik.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*