
Kasus dr Icha menjadi sorotan setelah bunuh diri usai mengalami intimidasi. Keluarga berencana melaporkan tiga oknum anggota DPRD TTU.
NTT, KalderaNews.com- Kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha (27) terus menjadi perhatian publik dan menjadi sorotan di media sosial.
Dokter muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. Keluarga menduga korban mengalami tekanan psikologis setelah mendapat intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu.
Paman sekaligus juru bicara keluarga, Fabianus Banase, mengungkapkan bahwa dr. Icha ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di lantai dua rumahnya sekitar pukul 17.55 WITA.
“Ditemukan gantung diri di lantai dua sekitar pukul 17.55 Wita. Dari hasil pemeriksaan kesehatan jiwa, almarhum ini mengalami guncangan hebat hingga melakukan percobaan bunuh diri,” ujar Fabianus di rumah duka di RSS Baumata, Kabupaten Kupang.
BACA JUGA:
- Profil Norbertus Bani dan Thrensius Lazakar, Oknum DPRD TTU Diduga Intimidasi dr. Icha
- Viral! dr Myta Internship Meninggal, BEM Unsri Soroti Adanya Bullying
- Selain dr. Myta, Siapa 3 Dokter Internship yang Gugur 3 Bulan Ini?
Meski penyebab pasti kematian masih menunggu hasil penyelidikan, keluarga menduga tekanan yang dialami dr. Icha berkaitan dengan insiden saat dirinya menangani pasien di IGD RS Leona.
Bermula saat menangani korban gigitan ular
Peristiwa tersebut terjadi ketika dr. Icha menangani seorang anak korban gigitan ular hijau yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 12.50 WITA.
Saat proses penanganan berlangsung, dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) datang ke IGD dan disebut berbicara dengan nada tinggi kepada dr. Icha.
Keduanya diketahui merupakan Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani. Pasien yang dirawat merupakan keponakan Therensius. Menanggapi tudingan tersebut, anggota DPRD itu membantah telah mengintimidasi tenaga medis.
“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi,” kata Therensius.
Ia mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi karena panik melihat kondisi anggota keluarganya.
“Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter,” tambahnya.
Polisi mulai melakukan penyelidikan
Polres Timor Tengah Utara telah meminta keterangan sejumlah rekan kerja dr. Icha yang berada di IGD saat insiden terjadi. Polisi juga berencana memanggil anggota DPRD yang disebut berada di lokasi untuk dimintai klarifikasi.
Kapolres TTU AKBP Eliana Papote mengatakan pihaknya bergerak meski belum menerima laporan resmi dari keluarga.
“Kami dari Polres belum mendapatkan laporan. Namun, berdasarkan berita viral yang sudah tersebar di media sosial, kami sudah melakukan beberapa tindakan kepolisian,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami sudah mengambil keterangan dari teman-teman dokter Icha, yang pada saat kejadian itu ada di lokasi IGD.”
Bupati TTU soroti oknum DPRD dan manajemen rumah sakit
Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, menyatakan kasus ini membuka fakta yang selama ini belum terungkap.
“Kejadian dr Icha ini membuka tabir yang selama ini tertutup rapat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung adanya oknum anggota DPRD yang kerap membuat keributan saat menjalankan kegiatan reses.
“Oknum yang sering ketika melakukan reses, baik sebelum maupun sesudah reses, itu melakukan kekacauan oleh karena pengaruh alkohol,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten TTU menyatakan siap mendukung langkah hukum yang ditempuh keluarga demi memperoleh keadilan.
“Kami akan mendukung segala upaya yang diambil keluarga dalam rangka memperoleh keadilan,” kata Yosep.
Selain itu, Bupati meminta Kepala Dinas Kesehatan menghentikan sementara proses perpanjangan izin operasional RSU Leona hingga persoalan tersebut selesai.
“Saya sudah panggil Kadis Kesehatan agar semua pengajuan izin perpanjangan Rumah Sakit Leona di TTU dibekukan,” ujarnya.
Ia juga mengkritik minimnya komunikasi dari pihak rumah sakit.
“Sampai saat ini, kami tidak menerima satu pun keterangan maupun update dari pihak rumah sakit soal kejadian ini.”
Yosep turut meminta rekaman CCTV rumah sakit diamankan sebagai barang bukti.
“Jangan hanya menggunakan tenaganya saja, tetapi berikanlah tanggung jawab sedikit. Saya sampai detik ini tidak mendapatkan laporan apa pun. Ini yang kami sesalkan,” tegasnya.
Keluarga siapkan laporan ke Polda NTT
Perkembangan terbaru, keluarga memastikan akan melaporkan tiga anggota DPRD TTU ke Polda NTT dan Badan Kehormatan DPRD setelah proses pemakaman selesai.
“Pasti kami laporkan ke Polda NTT, tapi setelah pemakaman besok, karena besok almarhumah akan dikuburkan di TPU Liliba,” ujar Fabianus, Senin (29/6/2026).
Tiga anggota DPRD yang akan dilaporkan yakni Norbertus Bani dari PKB, Veronika Lake dari PDI Perjuangan, serta Thrensius Lazakar dari Partai Golkar.
“Kami laporkan intimidasi dari ketiga orang DPRD itu ke BK (Badan Kehormatan) dan Polda NTT,” tegas Fabianus.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung dan pihak kepolisian terus mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang sebenarnya.
Warganet soroti perlindungan tenaga medis
Kasus meninggalnya dr. Icha memicu gelombang empati di media sosial. Banyak warganet menyampaikan belasungkawa sekaligus meminta aparat mengusut kasus tersebut secara transparan.
Sejumlah pengguna media sosial juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi tenaga kesehatan yang bertugas di ruang gawat darurat.
Tidak sedikit yang meminta agar dugaan intimidasi terhadap tenaga medis diproses sesuai ketentuan hukum apabila terbukti terjadi, sementara lainnya mengingatkan masyarakat untuk menunggu hasil penyelidikan resmi agar seluruh fakta dapat terungkap secara objektif.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply