BMKG gelar Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami 2026 di Pacitan. Desa Sidomulyo dibidik jadi Tsunami Ready Community UNESCO ke-30.
PACITAN, KalderaNews.com – Ancaman gempa bumi dan tsunami memang tidak bisa diprediksi kapan datangnya, namun tingkat kesiapsiagaan masyarakat bisa dibangun dan dilatih sejak dini.
Prinsip inilah yang mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk kembali memperkuat benteng mitigasi di wilayah pesisir selatan Jawa.
Melalui program Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) Tahun 2026, BMKG hadir langsung menyapa warga Kabupaten Pacitan.
BACA JUGA:
- Gempa Pacitan M 6,2, BMKG: Aktivitas Megathrust, Beberapa Rumah Runtuh!
- Gempa Pacitan M 5,5, Atap Sekolah Rusak, Tembok Retak!
- Rentetan Gempa Beruntun Hantam Indonesia 3 Hari Terakhir, Masihkah Aman?
Mengusung tema besar “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan edukatif ini digelar di Ruang Pertemuan Kantor Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).
Sinergi Lintas Sektor untuk Respons Cepat
Acara strategis ini dibuka langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani. Kehadiran Faisal tidak sendiri, ia didampingi oleh sederet pejabat teras BMKG seperti Deputi Bidang Geofisika Nelly Florida Riama, Direktur Perubahan Iklim A. Fachri Radjab, hingga jajaran Kepala UPT BMKG se-Jawa Timur.
Tak hanya dari internal BMKG, SLG 2026 ini juga mendapat dukungan penuh dari legislatif dan eksekutif. Tampak hadir Anggota Komisi V DPR RI Ali Mufthi, Wakil Bupati Pacitan Gagarin beserta jajaran Forkopimda, Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andri Atmoko, serta elemen relawan dan tokoh masyarakat setempat.
Dalam arahannya, Faisal Fathani mengingatkan kembali bahwa letak geografis Pacitan menyimpan potensi aktivitas seismik yang tinggi. Oleh sebab itu, menumbuhkan kapasitas dan kepedulian warga lokal adalah kunci utama memperkecil risiko jatuhnya korban jiwa.
“SLG adalah upaya BMKG untuk memastikan BPBD dan masyarakat di wilayah rawan peduli serta siap merespons tanda-tanda bahaya alam, termasuk peringatan dini resmi dari kami. Ini sejalan dengan inisiatif global Early Warning, Early Action,” jelas Faisal.
Faisal juga mewajibkan 53 peserta yang hadir—terdiri dari unsur TNI, Polri, tenaga kesehatan, guru, hingga media—untuk menjadi ‘penyambung lidah’ bagi keluarga dan lingkungan sekitar dalam menyebarkan ilmu penyelamatan diri.
Bidik Predikat Dunia: Desa Sidomulyo Menuju Tsunami Ready Community UNESCO
Ada satu catatan membanggakan di tengah pelatihan ini. BMKG secara khusus memberikan apresiasi tinggi terhadap Desa Sidomulyo. Desa ini dinilai konsisten merawat budaya mitigasi, terbukti dengan raihan predikat Desa Tangguh Bencana Tsunami Tingkat Utama dari BNPB pada tahun 2024 lalu.
Melihat modal sosial dan kapasitas warga yang sudah matang, BMKG berencana mengambil langkah besar ke depan.
“BMKG menilai Desa Sidomulyo telah memiliki kapasitas yang kuat untuk segera diusulkan sebagai Tsunami Ready Community yang diakui secara internasional oleh UNESCO. Saat ini Indonesia memiliki 29 desa berpredikat tersebut, dan kami berharap Sidomulyo bisa menggenapinya menjadi yang ke-30,” tambah Faisal optimis.
Apresiasi juga dialamatkan kepada Stasiun Geofisika Nganjuk dan Pusat Gempa Regional (PGR) Yogyakarta yang tiada henti mendampingi Pemprov dan Pemkab setempat demi mendongkrak literasi kebencanaan publik.
Mengasah Naluri Lewat Tabletop Exercise
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Nganjuk, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa SLG dirancang agar rantai komando informasi dari BMKG ke BPBD dan masyarakat tidak terputus. Jembatan informasi ini sangat krusial agar tidak ada kepanikan yang tidak perlu atau keterlambatan merespons saat alarm bahaya berbunyi.
Selama pelatihan, para peserta digembleng dengan berbagai materi esensial secara interaktif, mulai dari pemetaan potensi sumber gempa, membaca sistem informasi BMKG, hingga simulasi taktis lewat metode tabletop exercise (simulasi visual di atas meja kerja).
Senada dengan itu, Anggota Komisi V DPR RI Ali Mufthi menegaskan bahwa SLG bukan sekadar agenda seremoni atau pelatihan teknis musiman. Program ini adalah komitmen jangka panjang demi menyelamatkan masa depan generasi Pacitan.
Lewat edukasi terstruktur seperti SLG ini, Pacitan membuktikan diri tidak sekadar menunggu bencana, melainkan aktif bergerak membangun budaya tangguh demi mewujudkan masyarakat yang selamat dan berdaya saing global.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply