Inilah Kisah Teladan Sutami, Sosok Menteri Termiskin” Indonesia

Prof. Dr. (H.C.) Ir. H. Sutami
Prof. Dr. (H.C.) Ir. H. Sutami
Sharing for Empowerment

Mengenang profil Sutami, Menteri PU era Soeharto yang dijuluki menteri termiskin karena hidup jujur & bersahaja hingga akhir hayat.

JAKARTA, KalderaNews.com – Dalam sejarah riwayat pemerintahan Republik Indonesia, ada sebuah kisah mengharukan sekaligus mengagumkan dari seorang mantan menteri yang mengalami nasib sulit dipercaya di akhir masa pengabdiannya.

Sosok yang seumur hidupnya mengawasi dan memimpin berbagai proyek infrastruktur raksasa di tanah air ini justru harus rela mendapati aliran listrik rumah pribadinya diputus oleh petugas lantaran tak mampu membayar tagihan bulanan.

BACA JUGA:

Mantan menteri tersebut adalah Prof. Dr. (H.C.) Ir. H. Sutami atau Soetami (19 Oktober 1928 – 13 November 1980), seorang insinyur sipil yang pernah menjabat Menteri Pekerjaan Umum Indonesia.

Profil Sutami: Mengawasi Proyek Megah, Memilih Rumah Cicilan

Sutami adalah lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1956 yang sudah terkenal cerdas sejak menempuh pendidikan dasar dan menengah di Solo, salah satunya di SMA Negeri 1 Surakarta.

Ia merupakan otak di balik deretan mahakarya infrastruktur legendaris Indonesia. Ketika menjadi Direktur Hutama Karya (1961-1966), ia menjadi pimpinan pusat proyek pembangunan Jembatan Ampera di Sungai Musi, Palembang.

Ia juga memelopori penggunaan konstruksi beton pratekan saat membangun Jembatan Semanggi, serta turut membantu menghitung konstruksi bangunan Gedung MPR/DPR.

Namun, kekuasaan besar dan anggaran jumbo yang berada di bawah wewenangnya sama sekali tidak membuatnya silau harta. Kondisi memprihatinkan justru terjadi setelah ia meletakkan jabatannya sebagai Menteri PU pada 29 Maret 1978.

Meski belasan tahun mengawasi proyek bernilai miliaran rupiah, Sutami diketahui tidak memiliki rumah pribadi selama masih aktif menjabat sebagai pembantu presiden. Ia baru bisa memiliki rumah sendiri setelah pensiun yang dibelinya dengan cara mencicil.

Dikutip dari kesaksian dalam buku Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia (1991), akibat kondisi finansialnya yang jauh dari kata mewah pasca-pensiun, rumah cicilannya tersebut sempat mengalami pemutusan aliran listrik karena sang mantan menteri tidak memiliki cukup uang untuk membayar tagihan bulanan.

Rekor Pengabdian di Lintas Kabinet dan Dua Era Presiden

Integritas dan keahlian teknisnya yang luar biasa membuat Sutami dipercaya oleh dua presiden berbeda, yakni Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Ia sudah menjadi Menteri sejak tahun 1964 pada Kabinet Dwikora I masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga tahun 1978 pada Kabinet Pembangunan II masa pemerintahan Presiden Soeharto selama 13,5 tahun.

Catatan ini menjadikannya sebagai Menteri Pekerjaan Umum “terlama” dengan masa jabatan selama 12 tahun pada 6 kabinet berbeda.

Berikut adalah rekam jejak panjang karier birokrasi Ir. Sutami dalam jajaran pemerintahan:

  • Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi pada Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964 – 22 Februari 1966)
  • Menteri Koordinator Kompartimen Pekerjaan Umum dan Tenaga pada Kabinet Dwikora II (22 Februari 1966 – 28 Maret 1966)
  • Menteri Pekerjaan Umum dan Energi pada Kabinet Dwikora III (28 Maret 1966 – 25 Juli 1966)
  • Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Ampera I (25 Juli 1966 – 17 Oktober 1967)
  • Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Ampera II (17 Oktober 1967 – 6 Juni 1968)
  • Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik pada Kabinet Pembangunan I (6 Juni 1968 – 28 Maret 1973)
  • Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Pembangunan II (28 Maret 1973 – 29 Maret 1978)

Dedikasi di Lapangan dan Julukan “Menteri Termiskin”

Julukan “Menteri Termiskin” bukan sekadar bualan, melainkan cerminan nyata dari kesederhanaannya. Selama belasan tahun mengemban jabatan strategis, ia menolak memanfaatkan wewenang untuk memperkaya diri.

Mantan Staf Ahli Sutami, Hendropranoto, menceritakan bagaimana etos kerja sang menteri saat bertugas di lapangan. Sutami dikenal kerap berjalan kaki puluhan kilometer saat meninjau proyek pembangunan, terutama di area pedesaan dan daerah terpencil yang sulit diakses kendaraan.

“Cara itu dipilih agar dia bisa melihat langsung kondisi pembangunan sekaligus memahami kebutuhan masyarakat secara riil di lapangan,” tulis Hendropranoto dalam buku biografinya.

Bagi Sutami, pembangunan infrastruktur di desa dan pelosok nusantara jauh lebih krusial demi mengangkat derajat hidup rakyat kecil, dibanding hanya berorientasi pada kepentingan industri dan pengusaha.

Akhir Hayat yang Bersahaja dan Warisan Penghormatan Abadi

Prinsip kesederhanaan itu terus melekat erat hingga masa pensiunnya. Menteri PU dan Tenaga Listrik pada 1973-1978 ini lahir pada 1928 dan tutup usia pada 13 November 1980.

Saat kondisi kesehatannya memburuk akibat penyakit liver kronis, ia sempat enggan pergi ke rumah sakit karena khawatir tabungannya tidak mampu membayar biaya pengobatan.

Kisah hidup Ir. Sutami menyisakan warisan moral yang tak ternilai bagi generasi penerus. Di tengah tantangan krisis integritas modern, profil Sutami hadir sebagai standar tertinggi pejabat publik yang mendedikasikan seluruh keahliannya murni demi kemaslahatan rakyat.

Sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa-jasanya, namanya kini diabadikan menjadi salah satu jalan di Provinsi Lampung, yakni Jalan Ir. Sutami yang membentang dari bypass Soekarno-Hatta, Bandar Lampung, sampai Simpang Sri Bawono, Lampung Timur.

Selain itu, terdapat pula Bendungan Ir Sutami di Kabupaten Malang (Provinsi Jawa Timur) serta di Mbay, Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur).

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*