Viral video guru menggendong anak menyeberangi jembatan darurat di Gampong Sikundo, Aceh Barat. Warganet menyoroti lambatnya pembangunan.
ACEH BARAT, KalderaNews.com– Sebuah video yang memperlihatkan perjuangan seorang guru perempuan menyeberangi sungai menggunakan jembatan darurat di Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, menjadi perhatian luas di media sosial.
Dalam rekaman yang dibagikan oleh akun Instagram @kitabisacom dan diunggah ulang oleh akun berbagai media sosial tersebut memperlihatkan sang guru yang harus menggendong seorang anak sambil melintasi jembatan sederhana yang hanya tersusun dari tali dan bilah kayu.
Guru tersebut berjalan perlahan sembari berpegangan erat pada tali yang dipasang di sisi jembatan untuk menjaga keseimbangan.
Di bawahnya, arus sungai mengalir cukup deras sehingga membuat penyeberangan itu tampak sangat berisiko.
BACA JUGA:
- Demi Ikut TKA, Siswa SD di Aceh Nekat Seberangi Jembatan Putus
- Miris! Jembatan Mangkrak Puluhan Tahun, Pelajar Harus Pertaruhkan Nyawa Seberangi Sungai dengan Getek Rapuh Demi Bisa Sekolah
- Miris! Jembatan Putus, Siswa SD di Sukabumi Harus Seberangi Sungai Naik Perahu Karet Demi Bisa Sekolah
Jalur darurat yang sama juga digunakan oleh anak-anak sekolah maupun warga yang hendak beraktivitas sehari-hari karena belum tersedia akses yang lebih aman.
Dampak dari banjir bandang di Aceh tahun 2025
Kondisi tersebut merupakan dampak dari banjir bandang yang menerjang wilayah itu pada akhir November 2025.
Bencana mengakibatkan jalan dan jembatan utama menuju Gampong Sikundo rusak parah sehingga desa sempat terisolasi selama kurang lebih tiga pekan. Selama masa itu, distribusi kebutuhan pokok, obat-obatan, hingga layanan kesehatan mengalami hambatan.
Untuk mengatasi keterisolasian, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sempat membuka jalan alternatif darurat sepanjang sekitar lima kilometer dengan mengerahkan tujuh alat berat.
Proses pembangunannya tidak mudah karena harus menembus kawasan perbukitan dan hutan dengan kontur curam serta kondisi tanah yang labil.
Meski demikian, video yang kembali viral memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih mengandalkan jembatan darurat untuk melintasi sungai.
Informasi yang dibagikan melalui akun Kitabisa menyebut pembangunan sejumlah jembatan masih terus diupayakan hingga delapan bulan setelah banjir melanda.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, di Gampong Sikundo terdapat SD Swasta Sikundo yang mulai beroperasi sejak 2023.
Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Amanah Muhammad Amin itu menjadi salah satu sarana pendidikan dasar bagi anak-anak di wilayah pedalaman tersebut.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat belum buka suara
Persoalan akses menuju Sikundo sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum banjir 2025. Sejumlah dokumentasi sejak 2017 menunjukkan warga harus berjalan kaki sekitar dua jam dengan menyeberangi empat arus Sungai Meureubo dan melewati dua jembatan kabel untuk mencapai permukiman terdekat.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga pernah meresmikan jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Durian dan Dusun Sarah Saree pada Januari 2024.
Hingga kini belum ada keterangan resmi terbaru dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengenai lokasi pasti jembatan darurat yang muncul dalam video viral tersebut, target penyelesaian jembatan permanen, maupun anggaran yang disiapkan untuk memulihkan seluruh akses masyarakat Sikundo.
Warganet soroti fasilitas pembangunan untuk pendidikan anak
Video tersebut memicu beragam respons dari warganet. Banyak yang menyampaikan empati terhadap perjuangan warga dan berharap pembangunan infrastruktur segera direalisasikan.
Akun @pratamayoga8426 menulis, “Semoga masalah cepat teratasi 👏”, sementara @widi_sakura berharap, “Semoga segera ada jembatan yg bisa mempermudah akses warga..”
Sejumlah komentar juga datang dari orang-orang yang mengaku pernah mengunjungi Sikundo. Akun @dilapasaribu25__ mengaku pernah mengikuti kegiatan bersama mahasiswa di wilayah tersebut pada 2020. Ia menceritakan bahwa sejak saat itu kondisi jalan sudah rusak, jaringan komunikasi sulit, dan akses semakin berat ketika hujan turun. Meski demikian, ia mengaku mendapat banyak pengalaman berharga bersama masyarakat setempat.
Tak sedikit pula warganet yang menyoroti lambatnya pembangunan infrastruktur. Akun @rahmayanti.nita menyebut persoalan jembatan di Sikundo sudah berlangsung sejak lama berdasarkan cerita seorang senior yang pernah melakukan riset pada 2009. Sementara itu, @pang_ngopi menulis bahwa jembatan yang rusak sejak November 2025 hingga kini belum juga selesai dibangun.
Komentar bernada kritik juga bermunculan. Akun @dellaaniswara berharap video tersebut dapat menjadi perhatian para pemangku kebijakan dengan menuliskan,
“Tolong diputer di dalam rapat ……….. barangkali nih barangkali, nuraninya masih hidup 🙏🏻🙏🏻”. Ada pula warganet yang mempertanyakan prioritas anggaran dan percepatan pembangunan infrastruktur di daerah pedalaman agar masyarakat tidak lagi mempertaruhkan keselamatan setiap kali menyeberangi sungai.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply