Alasan Anak Usia Sekolah Jadi Pelaku Curanmor

Ilustrasi: Pencurian kendaraan bermotor (curanmor). (Ist.)
Ilustrasi: Pencurian kendaraan bermotor (curanmor). (Ist.)
Sharing for Empowerment

Kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) didominasi oleh pelaku yang masih berusia anak-anak atau usia sekolah.

SURABAYA, KalderaNews.com – Fenomena kriminalitas di kalangan remaja kian mengkhawatirkan. Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Jawa Timur mencatat bahwa kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di wilayah hukum mereka saat ini justru didominasi oleh pelaku yang masih berusia anak-anak atau usia sekolah.

Berdasarkan data kepolisian hingga Juni 2026, lonjakan kasus kejahatan konvensional 3C (Curas, Curat, dan Curanmor) cukup signifikan.

Pada bulan Mei, terdapat 266 kasus dengan 194 di antaranya berhasil diungkap dan mengamankan 230 tersangka.

BACA JUGA:

Angka ini naik pada bulan Juni menjadi 320 kasus, dengan 195 kasus berhasil diungkap dan 222 tersangka ditahan.

Dari pemetaan kepolisian, wilayah dengan kasus pencurian paling menonjol berada di Kota Surabaya, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Nganjuk.

Dominasi Pelaku di Bawah Umur

Kasubdit III Jatanras Polda Jatim, AKBP Arbaidi Jumhur, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai profil para pelaku curanmor yang tertangkap.

Berbeda dengan pencurian dengan kekerasan (curas) yang umumnya dilakukan oleh residivis berusia 30 tahun ke atas, curanmor justru digandrungi oleh darah muda.

Pelaku yang diamankan rata-rata berada di bawah usia 17 tahun atau mereka yang masih aktif menduduki bangku sekolah.

“Sekarang memang didominasi pelaku usia belia lah untuk curanmor,” ujar AKBP Arbaidi Jumhur, Kamis (2/7/2026).

2 Faktor Utama Alasan Anak Sekolah Nekat Mencuri Motor

Mengapa anak-anak usia sekolah yang seharusnya fokus mengenyam pendidikan justru terjerumus ke dalam jaringan kriminalitas? Pihak kepolisian membeberkan dua motif utama di balik fenomena ini:

  1. Ketergantungan dan Dampak Narkoba
    Faktor yang paling mengkhawatirkan bukan lagi sekadar masalah perut atau ekonomi. Polisi menemukan korelasi kuat antara maraknya curanmor remaja dengan peredaran narkotika. Banyak pelaku di bawah umur yang nekat menggasak motor demi mendapatkan uang cepat untuk membeli dan mengonsumsi narkoba.
  2. Kemudahan Menjual Barang Bukti Lewat Media Sosial
    Teknologi kini disalahgunakan oleh para pelaku. Anak-anak yang melek digital memanfaatkan platform media sosial seperti marketplace Facebook untuk menjual motor curian secara instan. Begitu motor berhasil dipetik, mereka langsung mengunggahnya dan biasanya langsung laku dalam waktu singkat. Hal inilah yang sempat menyulitkan penyidik dalam menelusuri barang bukti.

Tantangan Kepolisian Pemburu DPO

Meskipun ratusan tersangka telah dijebloskan ke tahanan selama dua bulan terakhir, Subdit III Jatanras Polda Jatim menegaskan bahwa penanganan kasus ini belum selesai.

Kepolisian masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk memburu para pelaku lain yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Saat ini, jumlah DPO yang terafiliasi dengan jaringan curanmor ini diperkirakan berkisar antara belasan hingga puluhan orang.

Pihak kepolisian pun terus memperketat patroli cyber dan pengawasan di lapangan guna memutus rantai pencurian yang melibatkan anak-anak di bawah umur ini.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*