Hengky Adinata dikenal sebagai trader dan investor ritel yang mendirikan komunitas Remora Trader (EduFulus/Remora)
Sharing for Empowerment
Kabar komunitas trading Remora milik Ko Hengky yang mendadak tutup picu kegaduhan di kalangan member. Simak nasib mereka di sini.
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Dunia investasi dan trading saham tanah air kembali diguncang kabar mengejutkan. Komunitas sekaligus grup premium berbayar Remora, yang diinisiasi oleh trader ternama Ko Hengky, dikabarkan mendadak bubar dan menutup layanannya.
Kabar penutupan grup premium ini langsung memicu kegaduhan dan perbincangan hangat di berbagai platform media sosial seperti X (Twitter) dan Instagram.
Mengingat Remora merupakan salah satu grup edukasi saham dengan biaya pendaftaran yang tidak murah, banyak pihak mempertanyakan bagaimana nasib para membernya saat ini.
Alasan Penutupan: Diduga Karena “Ego Pribadi”
Kabar bubarnya Remora pertama kali mencuat setelah beredar tangkapan layar dari salah satu akun trading yang menyebutkan bahwa grup mahal tersebut resmi ditutup.
“Grup mahal tidak menjamin wkwkkw, grup diclose dgn alasan ego pribadi,” tulis narasi yang beredar luas di media sosial, merujuk pada penutupan mendadak komunitas tersebut.
Unggahan member Remora di media sosial (EduFulus/Ist)
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang merinci apa yang dimaksud dengan “ego pribadi” tersebut. Namun, para pelaku pasar menduga adanya ketidakcocokan ekspektasi antara pihak pengelola grup dengan dinamika para anggotanya di dalam saluran komunikasi (Discord).
Ekspektasi Member vs Realita Kondisi Pasar
Beberapa pengamat komunitas trading menilai bahwa kegagalan grup premium seperti ini sering kali berakar dari pola pikir para membernya sendiri. Ketika sebuah grup edukasi booming karena pamer keuntungan (profit), banyak investor pemula bergabung dengan harapan instan.
Saat Ko Hengky menyebutkan satu kode saham di Discord, para member langsung berebutan melakukan aksi HAKA (Hajar Kanan/membeli di harga offer tertinggi) tanpa melakukan analisis mandiri terlebih dahulu. Hal ini sering kali membuat harga saham mengalami lonjakan (spike) sesaat secara tidak wajar.
Akibatnya, tercipta ekosistem yang tidak sehat di mana para member terus-menerus meminta “disuapi” rekomendasi saham tanpa mau belajar proses analisis dari nol.
Riuh di Media Sosial: Netizen Ungkap Fenomena Herding dan Regulasi OJK
Isu bubarnya Remora ini langsung memancing beragam reaksi tajam dari netizen dan sesama pelaku pasar di platform X. Banyak yang menyoroti psikologi pasar serta potensi ketatnya regulasi saat ini.
Berikut adalah beberapa komentar asli dari akun X yang turut menanggapi pembubaran tersebut:
Akun @AdityaRio19 (Trading Everywhere) menyindir perihal dana yang sudah masuk, “Namanya jg udh diterima duitnya wkwkkw.”
Akun @Accr3dited (shade) menganalisis kegagalan dari sisi teknis psikologi pasar dan regulasi, “Itu artinya beli gerombolan herding behavior never worked. Makanan empuk bandar & exit liquidity. Yg paling enak yg jualan kelas. Apalagi ojk memperketat orang yg mau rekomen saham yg ga qualified undur diri lah daripada kenapa2.”
Akun @Requiem18016489 (Requiem) menyayangkan dampak langsung ke anggota, “Masak member sendiri kau sikat juga kacau bro.”
Sementara akun @uzairtheDL (Ezra Djojonegoro) menuliskan kekhawatirannya, “Paling another UUS (Ujung Ujungnya Scam).”
Di sisi lain, akun @sidqimf (Sidqi) merasa lega karena belum sempat mendaftar, “Waduh, hampir aja mau join remora udah mau bubar aja,” sedangkan akun @saptaipb (sapte) mengingatkan, “Jgn sampe merugikan member.”
@LambeSahamjja “remora mau bubar tapi kagak ada pemberitahuan ke member?”
@yohanes_martinz “Selana gw belajar finansial ikut kelas saham berbayar adalah hal yang super2 konyol, logikanya kl org beneran jago ga bakal mau berbagi resep rahasianya. pinginnya kaya instan, bahkan warren buffet aja ga bisa nebak harga saham kok ya percaya sama org2 yg flexing”
@26mill_ “eh beneran? katanya di hold dulu pendaftarannya karena persiapan dia nikah. gw udah ngisi waiting list buat daftar batch selanjutnya padahal.”
@Accr3dited “artinya beli gerombolan herding behavior never worked. Makanan empuk bandar & exit liquidity. Yg paling enak yg jualan kelas. Apalagi ojk memperketat orang yg mau rekomen saham yg ga qualified undur diri lah daripada kenapa2”
@andrepolins “Emang ritelnya aja yg kocak, dari awal Remora gue juga tau kalo Ko Heng gak pernah suka nyuapin orang terus2an. Cuma gue udah tau endingnya pasti bakal begini pas Remora booming gara2 overpost. Aslinya padahal ko heng suka share2 gratis dari dulu suka weekly meeting di neobdm”
Bagaimana Nasib dan Respons Para Member?
Sentimen negatif kini memang tengah membayangi para member Remora. Banyak dari mereka yang merasa dirugikan karena sudah membayar biaya kelas yang sangat mahal namun grup justru ditutup di tengah jalan.
Berdasarkan diskusi di komunitas, para member tidak hanya menghadapi masalah penutupan kelas, tetapi juga potensi kerugian portofolio akibat tersangkut (nyangkut) di saham-saham yang sebelumnya direkomendasikan. Ditambah lagi, kondisi makroekonomi dan keluarnya modal asing (foreign flow) membuat pasar saham domestik bergerak fluktuatif, sehingga menyulitkan trader ritel untuk membalikkan keadaan.
Kasus dikabarkannya bubar komunitas Remora ini menjadi pelajaran berharga bagi publik bahwa keanggotaan grup mahal sekalipun tidak pernah menjamin keuntungan konsisten di pasar saham tanpa adanya manajemen risiko serta analisis yang mandiri.
Hingga berita ini diturunkan dan di tengah riuh serta kehebohan di sosial media, pihak Remora ataupun Ko Hengky belum memberikan klarifikasi.
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan di konten EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.
Leave a Reply