
Pengangguran terdidik capai 1,033 juta. Pakar UGM soroti kesenjangan skill, adopsi AI, dan perlunya revitalisasi vokasi.
YOGTAKARTA, KalderaNews.com – Fenomena pengangguran terdidik di Indonesia menembus angka kritis. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Mei 2026 mencatat sebanyak 1,033 juta lulusan diploma (D4), sarjana (S1), hingga pascasarjana (S3) belum terserap di pasar kerja.
Angka ini menggarisbawahi adanya mismatch atau ketidaksesuaian mendasar antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan riwayat industri modern.
Ijazah vs Keterampilan Praktis: Dominasi Teori di Kampus
Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A., menegaskan bahwa salah satu pemicu utama kondisi ini adalah sistem pendidikan tinggi yang masih menitikberatkan pada penguasaan teori daripada keahlian terapan.
BACA JUGA:
- Miris! Ini 5 Jurusan S1 dengan Porsi Pengangguran Tertinggi
- Benarkah Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Pengangguran Turun 4,65%?
- Alamak, Ternyata Pengangguran Jawa Barat Tertinggi Ke-3 Nasional
“Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan,” ungkap Prof. Tadjuddin dalam keterangannya di laman resmi UGM.
Ia menambahkan bahwa gelar akademis tidak lagi menjadi jaminan utama bagi korporasi dalam merekrut tenaga kerja jika tidak dibarengi dengan portofolio keterampilan yang relevan.
Disrupsi AI dan Tekanan Struktur Ekonomi
Tantangan pencari kerja terdidik kian kompleks akibat perubahan lanskap ekonomi nasional dan global:
- Adopsi Kecerdasan Buatan (AI): Penetrasi AI dan teknologi otomatisasi mulai menggeser peran posisi entry-level (pemula) yang biasa diisi oleh para lulusan baru (fresh graduates). Industri kini mensyaratkan kualifikasi teknis yang lebih spesifik dan adaptif terhadap teknologi.
- Tekanan Sektor Industri Padat Karya: Dari sisi makroekonomi, sektor manufaktur dan padat karya mengalami kendala akibat lonjakan harga bahan baku impor serta penurunan daya beli masyarakat. Imbasnya, perusahaan menempuh efisiensi anggaran lewat pengurangan rekrutmen hingga pemutusan hubungan kerja.
Program Magang dan Urgensi Pusat Pelatihan Modern
Meskipun pemerintah telah menjalankan program magang industri untuk mengikis kesenjangan keterampilan, kapasitas daya tampung program tersebut dinilai belum memadai dibandingkan dengan lonjakan jumlah lulusan tiap tahunnya.
Prof. Tadjuddin mendorong akselerasi pendirian pusat-pusat pelatihan kerja modern yang terkoneksi langsung dengan standar industri. Langkah ini dinilai sebagai solusi jangka pendek paling responsif untuk membekali lulusan perguruan tinggi yang belum terserap pasar.
Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Kewirausahaan
Sejalan dengan pandangan tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Agus Sartono, menekankan perlunya langkah strategis berupa revitalisasi pendidikan nasional secara menyeluruh.
Fokus utamanya adalah peningkatan mutu, akses, dan relevansi kurikulum vokasi berbasis kebutuhan pasar kerja lokal maupun global.
- Penguatan Politeknik: Pengoperasian dan ekspansi politeknik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta area industri perlu terus ditingkatkan. Hal ini bertujuan mencetak tenaga terampil tingkat menengah sekaligus membentuk ekosistem wirausaha muda.
- Penciptaan Lapangan Kerja Baru: Berbekal pendidikan vokasi terapan, para lulusan diharapkan tidak sekadar menjadi pencari kerja (job seeker), melainkan mampu menciptakan lapangan kerja mandiri (job creator).
“Kalau pusat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua sampai lima tahun dapat menciptakan satu hingga dua juta penyerap pengangguran terdidik,” pungkas Prof. Tadjuddin.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply