Fenomena War Bimbel Jam 2 Subuh, Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan?

Tangkapan layar viral antre bimbel di Yogyakarta
Tangkapan layar viral antre bimbel di Yogyakarta (KalderaNews/Malena)
Sharing for Empowerment

Viral unggahan @nada_arini soroti fenomena orang tua antre bimbel dari jam 2 subuh, kritik kegagalan sistem pendidikan.

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Unggahan di platform Threads oleh akun @nada_arini mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Ia menyoroti potret miris para orang tua yang rela mengantre sejak pukul dua dini hari demi mendapatkan kuota bimbingan belajar (bimbel) untuk anak-anak mereka.

“Turut berduka atas buruknya sistem pendidikan kita. Baru aja liat post tentang orang tua nge-war bimbel buat anak sekolah, sampai harus antri dari jam 2 subuh biar kebagian. Yang lebih pedih lagi adalah jarang yang melihat ini sebagai kegagalan sistem. Dianggap normal sebagai bagian dari perjuangan mendapatkan pendidikan bermutu ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ Solusinya malah MBG, bukan rombak total sistem yang ngaco ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ” unggah @nada_arini

BACA JUGA:

Fenomena ini memicu gelombang respons netizen yang mengkritik ketimpangan mutu sekolah, melambungnya biaya sekolah swasta, hingga arah kebijakan pemerintah yang dinilai belum menyentuh akar permasalahan pendidikan.

Suara Netizen: Dari Soal Mutu Sekolah Hingga Kebijakan Pemerintah

Unggahan tersebut memantik beragam komentar kritis dari warganet yang mengeluhkan beban pendidikan saat ini:

  • @wiska_partilah:”Nah betul kan klo pendidikan kita sudah bagus ga perlu bimbel diluar.. pengajar yg bermutu sekolah yg bagus dan pemerintah yg mendukung. Saya adalah ibu yg harus bayar lebih untuk bimbel anak2…”
  • @recipini:”Belum lagi sekolah swasta yg agaknya ga diatur batas tarif tertingginya.. Bikin semewah mungkin hingga mayoritas kelas menengah aja ga mampu, yg mampu pun ttp harus ambil tambahaan les krn pelajarannya susah.. tiering yg tidak diatur hingga membangongkan..”
  • @nadfa2004:”Sistem pendidikan Indonesia sejak Orde Baru didesain untuk mempertahankan doktrin massa mengambang sehingga mendidik akar rumput jadi apolitis selama seumur hidup”
  • @mya_droidx:”Puluhan tahun masalah nya itu, bukan sistem dan kurikulum yg diperbaiki, malah main coba2 metode belajar negara maju ini lah itu lah.. kek di iklan, buat anak kok coba2. Udah sih kiblatnya cina/jepang/korea aja. Karna emang lebih gampang diterapin.”
  • @daniel_alcazar_76:”O, sistem pendidikan berdagang kertas. Sekarang ditambah berdagang dapur. Mana ada yang gratis?”

Mengapa Orang Tua Rela “War” Bimbel?

Ketergantungan tinggi terhadap lembaga bimbingan belajar di luar sekolah mencerminkan adanya gap atau jurang pemisah antara materi yang diajarkan di kelas dengan standar ujian yang harus dihadapi siswa.

Beberapa poin utama yang dikritik oleh masyarakat meliputi:

  • Kualitas Pengajaran Sekolah Formal yang Belum Merata: Banyak orang tua merasa kurikulum dan metode pengajaran di sekolah belum cukup kuat untuk membekali anak menghadapi seleksi akademik.
  • Biaya Pendidikan Swasta Tanpa Batas Atas: Sekolah swasta bermutu tinggi kerap mematok tarif yang tak terjangkau oleh kelompok kelas menengah, namun tetap menuntut beban belajar yang tinggi hingga siswa tetap membutuhkan les tambahan.
  • Normalisasi Beban Ekstra: Kompetisi ketat menciptakan persepsi di tengah masyarakat bahwa mengorbankan waktu dan biaya tambahan untuk bimbel adalah hal “biasa” demi masa depan anak.

Solusi Konkret: Apa yang Harus Dibenahi?

Untuk menghentikan siklus ketergantungan pada bimbel swasta dan mengembalikan fungsi utama sekolah formal, langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan meliputi:

  1. Pemerataan Kualitas Guru dan Fasilitas: Menjamin setiap sekolah memiliki tenaga pendidik berkualifikasi tinggi dan fasilitas penunjang yang memadai.
  2. Evaluasi dan Penyelarasan Kurikulum: Memastikan materi pengajaran di kelas selaras dengan standar kompetensi yang diuji dalam seleksi akademik.
  3. Regulasi Biaya Pendidikan: Pemerintah perlu mengevaluasi dan menetapkan batasan transparansi biaya pada sektor pendidikan swasta agar tetap terjangkau.

Fenomena “war” bimbel sejak dini hari seharusnya tidak lagi dipandang sebagai perjuangan wajar, melainkan sinyal darurat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera merombak tata kelola pendidikan nasional secara menyeluruh.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


43 views