
SD Santo Yosef Surabaya bekali siswa kelas 4-6 edukasi kesehatan reproduksi dan perlindungan diri secara fisik dan digital.
SURABAYA, KalderaNews.com – SD Santo Yosef Surabaya menunjukkan komitmen dalam mendampingi peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu menjaga dirinya.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Perlindungan Diri yang diikuti oleh siswa kelas 4-6 SD Santo Yosef Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026 mulai pukul 10.00–12.00 WIB tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ibu Dwi Retno Sektiningsih, SST., Bd. dan Ibu Euvanggelia Dwilda Ferdinandus, S.Keb.Bd., M.Kes.
BACA JUGA:
- Semangat Kemerdekaan di SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya
- Siswa SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya Implementasi KPKC dan Dasa Dharma Pramuka
- SD Santo Yosef Tarakanita Latih Anak Kelas 1-3 Bijak Gawai
Mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan anak, kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal perubahan tubuh dan perasaan yang terjadi seiring pertumbuhan, sekaligus belajar bagaimana merawat dan melindungi diri dengan cara yang tepat.
Dalam materi yang disampaikan, siswa diajak memahami bahwa setiap tubuh memiliki proses pertumbuhan yang berbeda. Pubertas bukanlah sebuah perlombaan, sehingga tidak ada anak yang perlu merasa malu, minder, ataupun membandingkan dirinya dengan teman. Pesan tersebut penting untuk membangun sikap saling menghargai dan menerima perubahan diri secara positif.

Selain mengenal perubahan fisik dan emosional, siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan tubuh. Mereka diperkenalkan pada kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan tubuh, termasuk menjaga kebersihan diri dan menggunakan pakaian yang bersih.
Hal penting lainnya yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah kemampuan siswa mengenali batasan diri dan situasi yang aman maupun tidak aman. Siswa diajak memahami bahwa tubuh merupakan sesuatu yang berharga dan setiap orang memiliki hak untuk merasa aman.
Melalui berbagai contoh situasi dan permainan edukatif, siswa belajar membedakan situasi yang aman, membingungkan, dan tidak aman. Mereka juga diperkenalkan pada langkah perlindungan diri yang sederhana, yaitu “Tolak – Menjauh – Cerita” ketika menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman atau tidak aman.
Pesan yang ditekankan kepada siswa adalah keberanian untuk berbicara ketika mengalami atau melihat situasi yang tidak aman. Siswa juga diarahkan untuk memiliki beberapa orang dewasa tepercaya yang dapat menjadi tempat meminta bantuan, seperti orang tua atau wali, guru, keluarga tepercaya, maupun tenaga kesehatan.
Di tengah perkembangan teknologi, pendidikan perlindungan diri juga tidak dapat dipisahkan dari keamanan di dunia digital. Karena itu, siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga privasi dan berhati-hati ketika berinteraksi melalui media sosial.
Siswa diajak mengenali berbagai tanda bahaya dalam percakapan daring, seperti orang asing yang meminta data pribadi, mengajak berpindah ke ruang percakapan rahasia, menawarkan hadiah dengan syarat tertentu, atau meminta foto dan video pribadi.
Mereka juga diperkenalkan pada langkah “Berhenti – Blokir – Simpan – Lapor – Cerita” ketika menemukan pesan atau situasi digital yang mencurigakan. Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan mampu menggunakan teknologi secara lebih bijak dan tidak menghadapi masalah seorang diri.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Siswa diajak untuk mengambil keputusan yang aman, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Melalui kegiatan yang interaktif dan komunikatif, siswa didorong untuk berani bertanya tanpa rasa malu serta belajar menghargai pertanyaan dan pengalaman teman. Suasana belajar yang aman dan saling menghormati menjadi bagian penting dalam pembelajaran ini.
Di akhir kegiatan, siswa diajak mengingat lima pesan utama: setiap tubuh tumbuh berbeda, rawat tubuh dengan benar, batasan diri harus dihormati, berhenti dan bercerita saat merasa tidak aman, serta mencari bantuan bukanlah sebuah kesalahan.
Melalui kegiatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Perlindungan Diri ini, SD Santo Yosef Surabaya berharap para siswa semakin memahami tubuhnya, mampu menjaga kesehatan dan privasi diri, serta memiliki keberanian untuk mengatakan “tidak”, menjauh dari situasi yang tidak aman, dan mencari bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.
“Tubuhku berharga, aku berhak menjaga diri.” Pesan sederhana tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi bekal bagi siswa untuk bertumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, saling menghargai, dan mampu menjaga diri maupun teman-teman di sekitarnya. (Penulis: Ely Zabeth R)
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply