Konsorsium 22 Perguruan Tinggi di DIY Ditantang Hadirkan Solusi Kemiskinan

Tugu Yogyakarta (Tugu Ngayogyakarta) menjadi simbol atau lambang dari kota Yogyakarta
Tugu Yogyakarta (Tugu Ngayogyakarta) menjadi simbol atau lambang dari kota Yogyakarta (KalderaNews/Arli Cia)
Sharing for Empowerment

LLDikti V dan Kemdiktisaintek bentuk 22 konsorsium perguruan tinggi di DIY guna atasi masalah kemiskinan dan pembangunan daerah.

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Kompleksitas persoalan pembangunan daerah kini tidak lagi bisa diselesaikan oleh satu institusi atau satu bidang keilmuan saja.

Menjawab tantangan tersebut, perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat kolaborasi strategis dengan membentuk 22 konsorsium lintas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) guna memberikan solusi berbasis riset dan keahlian yang terukur bagi masyarakat.

Langkah ini menjadi krusial mengingat DIY menghadapi dinamika sosial-ekonomi yang nyata.

BACA JUGA:

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di DIY pada September 2025 berada di angka 10,08%, sementara tingkat pengangguran terbuka per November 2025 tercatat sebesar 3,30%.

Kehadiran ekosistem pendidikan tinggi yang kuat di DIY dinilai menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan tersebut secara berkelanjutan.

Konsorsium Bukan Sekadar Nota Kesepahaman

Dalam perhelatan Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V, Rabu (9/9/2026), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan pentingnya orientasi baru bagi institusi pendidikan tinggi.

Wamen Fauzan menyoroti bahwa kampus harus bertransformasi dari sekadar mengejar capaian akademik menjadi lembaga penyedia solusi konkrit atas permasalahan sosial.

“Konsorsium bukan sekadar kumpulan institusi yang menandatangani nota kesepahaman. Konsorsium adalah pengakuan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi yang sanggup menjawab persoalan daerah itu secara sendirian. Misalnya stunting tidak bisa diselesaikan oleh fakultas kedokteran saja, ia butuh ahli gizi, ahli pertanian, ahli komunikasi, ahli ekonomi, dan ahli-ahli yang lain,” tegas Wamen Fauzan.

Melalui pendekatan konsorsium, perguruan tinggi diajak mengidentifikasi akar masalah daerah terlebih dahulu, lalu menghimpun kepakaran lintas disiplin untuk menyelesaikannya secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, dunia usaha, dan industri.

22 Klaster Prioritas dan Sinergi 14 PTN-PTS di DIY

Di wilayah DIY, skema ini diwujudkan melalui pembentukan 22 konsorsium yang melibatkan 14 PTN dan PTS. Kepala LLDikti Wilayah V, Setyabudi Indartono, menjelaskan bahwa konsorsium ini telah berkoordinasi langsung dengan lima pemerintah kabupaten/kota di DIY untuk menyelaraskan kepakaran akademik dengan kebutuhan riil di lapangan.

Konsorsium yang mempertemukan para profesor dan doktor ini memetakan berbagai klaster prioritas pembangunan, antara lain:

  • Sosial & Ekonomi: Penanganan kemiskinan, layanan dasar, pemberdayaan UMKM, dan ekonomi kreatif.
  • Kesehatan & Lingkungan: Layanan kesehatan masyarakat, pengolahan persampahan, serta ketahanan iklim dan pangan.
  • Pendidikan & Budaya: Optimalisasi pariwisata, penataan ruang publik, pelestarian budaya, dan peningkatan mutu pendidikan.

“Kegiatan ini adalah momentum strategis untuk menguatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi dan tempat perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan bangsa,” ungkap Setyabudi.

Menjawab Arahan “Diktisaintek Berdampak” dan Asta Cita

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turut memberikan penekanan mendalam mengenai esensi kedekatan antara perguruan tinggi dan realitas sosial.

Menurut beliau, kedekatan fisik kampus dengan pemukiman warga tidak otomatis menjamin kebermanfaatan ilmu pengetahuan jika tidak diarahkan pada penyelesaian masalah.

“Ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab pada akhirnya selalu membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena pengetahuan itu hadir?” tegas Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Inisiatif penguatan konsorsium ini sejalan dengan arah kebijakan Kemdiktisaintek melalui semangat “Diktisaintek Berdampak”.

Langkah kolaboratif ini juga mendukung pencapaian visi pembangunan nasional dalam Asta Cita, khususnya pada pilar peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sains dan teknologi, serta pembangunan inklusif menuju Indonesia Emas 2045.

Model konsorsium yang terbukti solid di DIY ini diharapkan menjadi contoh percontohan (benchmark) bagi wilayah lain di Indonesia dalam menghubungkan riset perguruan tinggi dengan kebijakan publik.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


18 views