JAKARTA, KalderaNews.com – Hari ini, Sabtu, 23 September 2023, Matahari bersinar tepat di khatulistiwa. Peristiwa ini disebut fenomena ekuinoks. Berikut beberapa faktanya.
Fenomena ekuinoks memicu hari tanpa bayangan, seperti bisa disaksikan di Pontianak, Kalimantan Barat.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Suraina mengatakan, Matahari ada di ketinggian maksimum atau puncak kulminasi di Pontianak pada pukul 11.35.10 WIB.
Kota tersebut adalah salah satu kota yang berlokasi di garis khatulistiwa.
Pengamat yang berada di garis khatulistiwa akan mengalami matahari berada tepat di atas kepala saat tengah hari pada hari tanpa bayangan ini.
Ketika matahari tepat berada di titik Zenit atau di atas kepala, maka tidak ada bayangan yang dibentuk oleh benda tegak tidak berongga, pada tengah hari.
BACA JUGA:
-
23 September, Hari Bahasa Isyarat Internasional, Begini Tema dan Sejarahnya
-
Berikut Fenomena Astronomi di Bulan September 2023, Ada Equinoks dan Harvest Moon
-
Inilah Logo, Makna, dan Tema Hari Jadi Kota Bandung, 25 September 2023
Nah, berikut beberapa fakta menarik tentang fenomena ekuinoks:
Asal dan arti ekuinoks
Istilah ekuinoks berasal dari bahasa Latin, yaitu equinoctis atau equum yang bermakna sama, dan noctis yang artinya malam.
Ekuinoks secara harfiah lebih cocok dengan kondisi Bumi yang berada antara belahan Bumi Utara maupun belahan Bumi Selatan, yang sama-sama menerima radiasi yang sama baik besaran maupun durasinya.
Matahari tepat di atas kepala
Ketika terjadi fenomena ekuinoks, Matahari bersinar tepat di atas kepala, sehingga setiap bayang-bayang benda tegak yang berdiri di atas garis khatulistiwa akan menghilang sesaat.
Pontianak di Kalimantan Barat merupakan salah satu kota yang berada di garis khatulistiwa. Kerena itu Pontianak dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui oleh garis lintang 0 derajat.
Durasi siang dan malam sama panjang
Bila ditinjau dari pengamatan Tata Surya di luar Bumi, posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari ke Bumi.
Hal ini mengakibatkan batas siang-malam berimpit dengan garis bujur di setiap permukaan Bumi.
Sehingga, panjang siang dan malam nyaris sama di seluruh dunia, walau kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer.
Terjadi dua kali setahun
Fenomena Matahari tepat di khatulistiwa terjadi dua kali dalam setahun, yaitu di bulan Maret dan September.
Ekuinoks juga menjadi penanda hari pertama musim gugur (ekuinoks musim gugur) di belahan Bumi utara dan hari pertama musim semi (ekuinoks musim semi) di belahan Bumi selatan.
Di Indonesia, ekuinoks Maret merupakan pertanda peralihan musim atau pancaroba dari hujan ke kemarau.
Sedangkan ekuinoks September ini menjadi pertanda peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply