Mengapa Anak Ogah Masuk MA Swasta, Padahal MI dan MTs Banjir Pendaftar?

Ilustrasi: Siswi Madrasah (Ist.)
Ilustrasi: Siswi Madrasah (Ist.)
Sharing for Empowerment

Analisis tajam penyebab penurunan siswa MA swasta dibanding SMK dan strategi membangun value proposition bagi generasi muda.

BOGOR, KalderaNews.com – Ada fenomena menarik yang terjadi pada lanskap pendidikan Islam di Kabupaten Bogor.

Berdasarkan studi lapangan pada tahun ajaran 2025/2026, Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta umumnya kebanjiran peserta didik.

Rata-rata MTs swasta di wilayah pinggiran mampu menampung 215 siswa per sekolah, dengan total menembus 78 ribu siswa.

BACA JUGA:

Namun, pemandangan kontras terjadi saat memasuki jenjang Madrasah Aliyah (MA) swasta. Jumlah siswa merosot tajam menjadi rata-rata hanya 144 siswa per sekolah, dengan total akumulatif sekitar 19 ribu siswa.

Bahkan pada yayasan yang mengelola MA dan SMK dalam satu kawasan terpadu dengan fasilitas dan guru yang relatif sama jumlah siswa SMK sering kali melesat beberapa kali lipat. Mengapa generasi muda enggan memilih MA?

Pergeseran Pola School Choice: Dari Orang Tua ke Remaja

Akar dari fenomena ini dibedah secara mendalam oleh Yosef Budiman, seorang pakar yang juga merupakan Guru Ekonomi MAN 2 Bogor, mahasiswa S3 Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag–LPDP dikutip dari situs Kemenag.

Menurut Yosef, penurunan ini erat kaitannya dengan perubahan psikologis anak dalam konsep school choice (pilihan sekolah). Pada jenjang pendidikan dasar (MI dan MTs), keputusan memilih sekolah didominasi oleh orang tua (parental school choice).

Penelitian dari Hasanah, Badar, dan Ghazi (2022) mengonfirmasi bahwa keluarga Muslim di Indonesia memilih madrasah karena integrasi pendidikan umum dan nilai-nilai Islam.

Namun, dinamika ini berubah total saat anak menginjak usia remaja atas (MA/SMA/SMK). Pilihan sekolah bergeser ke tangan siswa yang mulai mempertimbangkan cita-cita karier, perguruan tinggi tujuan, serta keterampilan praktis siap pakai.

Yosef Budiman (Guru Ekonomi MAN 2 Bogor, mahasiswa S3 Administrasi Pendidikan UPI, serta penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag–LPDP)
Yosef Budiman (Guru Ekonomi MAN 2 Bogor, mahasiswa S3 Administrasi Pendidikan UPI, serta penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag–LPDP) (KalderaNews/Dok. Kemenag)

Dalam studi lapangannya, Yosef Budiman memberikan kutipan langsung mengenai pergeseran pola pengambilan keputusan ini:

“Pada jenjang MI dan MTs, keputusan memilih sekolah masih banyak ditentukan oleh orang tua. Namun pada jenjang aliyah, suara siswa menjadi semakin menentukan. Tantangan utama madrasah aliyah saat ini bukan hanya menjaga kualitas pendidikan, tetapi juga menunjukkan relevansinya bagi masa depan generasi muda,” tandansya.

“Siswa perlu melihat bahwa madrasah tidak hanya membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai keislaman, tetapi juga membuka jalan menuju perguruan tinggi, dunia profesional, kewirausahaan, maupun berbagai bidang kehidupan yang mereka cita-citakan,” imbuhnya.

Tantangan Daya Saing MA Swasta vs MA Negeri

Menariknya, tantangan sepi peminat ini tidak berlaku bagi Madrasah Aliyah Negeri. Di Kabupaten Bogor, lima MAN yang ada justru sukses menampung lebih dari 5.500 siswa.

Artinya, persoalan utama bukan terletak pada “merek” madrasah aliyah itu sendiri, melainkan pada kemampuan MA swasta dalam membangun daya saing, keunikan (positioning), dan relevansinya di mata generasi muda.

Mengingat lebih dari 90 persen madrasah di Indonesia berstatus swasta, kemampuan adaptasi lembaga swasta menjadi penentu masa depan pendidikan Islam nasional.

4 Strategi Rebranding MA Swasta Agar Dilirik Generasi Muda

Untuk memenangkan pasar school choice remaja, MA swasta tidak perlu berubah menjadi SMK. Madrasah hanya perlu merumuskan ulang alasan mengapa mereka layak dipilih (value proposition) melalui program transformatif berikut:

1. Pengembangan Program Keterampilan Berbasis Lokal

Sejumlah MA terbukti sukses bertahan dengan membuka kelas kompetensi khusus tanpa menghilangkan identitas

keislamannya.Mulai dari literasi digital, desain grafis, teknologi informasi, tata boga, hingga agribisnis yang disesuaikan dengan kebutuhan industri sekitar.

2. Penguatan Kelas Riset dan Kewirausahaan

Selain program unggulan seperti tahfiz Al-Qur’an, MA harus memfasilitasi minat akademik remaja melalui kelas riset ilmiah, kemampuan bahasa asing, dan entrepreneurship praktis agar siswa siap bersaing pasca-kelulusan.

3. Digitalisasi Layanan dan Sinergi Akademik

Pihak pengelola madrasah perlu memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi ternama dan mengadopsi ekosistem digital dalam pembelajaran.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama dalam mendorong kemandirian madrasah dan digitalisasi layanan pendidikan.

4. Strategi Pemasaran Berorientasi Siswa

Komunikasi pemasaran sekolah harus diubah. Jika dahulu fokusnya merayu orang tua dengan jargon “sholeh dan berkarakter”, kini promosi juga harus menyasar siswa dengan menunjukkan infografis alumni yang sukses menembus dunia kerja profesional dan PTN.

Menyelaraskan Impian Orang Tua dan Anak

Masa depan MA swasta tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa baik lembaga itu mendidik, melainkan seberapa kuat madrasah meyakinkan generasi muda bahwa impian masa depan mereka dapat tumbuh dan diwujudkan di sana.

Ketika madrasah berhasil menjadi pilihan ideal bagi orang tua sekaligus ruang aktualisasi bagi anak, di situlah fondasi keunggulan bersaing yang berkelanjutan akan terbentuk.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


222 views