Kurikulum Prototipe: Banten Targetkan Sekolah Penggerak di 4 Kabupaten/Kota pada 2022




Peserta didik SMP Pahoa Summarecon Serpong Tangerang mengikuti kegiatan Field Trip
Peserta didik SMP Pahoa Summarecon Serpong Tangerang mengikuti kegiatan Field Trip (KalderaNews/Dok. Sekolah)

BANTEN, KalderaNews.com – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Tabrani optimis, meski di Banten baru dua kabupaten/kota yang memiliki sekolah penggerak, yaitu Kota Tangerang dan Kabupaten Pandeglang, kurikulum prototipe dapat diterima di Banten.

Pada tahun 2022, setelah Kota Tangerang dan Kabupaten Pandeglang, ada dua daerah lagi yang akan menjadi target sekolah penggerak di Banten, yaitu Cilegon dan Lebak.

Ia menjelaskan kurikulum prototipe memang dimulai dari sekolah-sekolah penggerak. Bagi sekolah yang belum menjadi sekolah penggerak, itu menjadi opsi, artinya sekolah boleh melaksanakan atau tidak.

BACA JUGA:

Ia juga menyebut dalam berbagai kesempatan dirinya terus mengajak kepada sekolah-sekolah penggerak di Banten untuk mengimbaskan kurikulum prototipe kepada sekolah-sekolah lain di sekitarnya.

Namun demikian, Tabrani mengatakan, yang namanya pengimbasan sifatnya hanya mengajak kepada sekolah-sekolah yang akan diimbas, tidak bisa dipaksakan karena menyangkut soal kesiapan.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Bintang Resmi, Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, Nurbeti mengatakan, sekolah yang dipimpinnya menyambut baik hadirnya kurikulum prototipe. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh tantangan yang besar untuk menjalankan kurikulum 2013 secara utuh di masa pandemi.

“Di daerah kami tidak semua anak memiliki fasilitas teknologi yang memadai, jaringan juga susah. Jadi memang sangat kesulitan,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Sekolah SD Negeri 1 Luhur Jaya, Cipanas, Lebak, Banten, Luna Starlinsky, yang menyebut hadirnya kurikulum prototipe ini memberi harapan baru agar anak-anak didiknya bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Ia mengaku, selama pandemi, selain PTM terbatas, guru-guru di sekolah harus menyambangi murid ke rumah-rumah untuk menyampaikan materi pelajaran. Akibatnya, sulit bagi para guru untuk menuntaskan kewajiban kurikulum.

“Anak-anak yang rumahnya berdekatan berkumpul di satu rumah, nanti gurunya ke sana. Itu hampir setiap hari,” ujarnya.

Kesulitan yang sama tidak hanya dirasakan oleh para guru dan kepala sekolah tapi juga pengawas. Ketua kelompok kerja pengawas sekolah di kelurahan Cipanas, Kabupaten Lebak, Yulyadi mengamini perihal yang diungkapkan oleh para kepala sekolah.

Ia mengaku, dengan kurangnya tenaga pengawas, sulit baginya untuk memastikan setiap guru menuntaskan kurikulum. “Sekolah di Lebak ini ada 700an, sementara pengawas hanya ada 35 orang. Saya sendiri harus mengawasi 27 sekolah, itu tantangan yang luar biasa,” ujarnya.

Kurikulum prototipe memberi fleksibilitas dan ruang besar bagi kearifan lokal, sehingga setiap satuan pendidikan dapat menunjukkan karakter dan keunikannya masing-masing.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*