Yuk Belajar Profil Pelajar Pancasila di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan




Ilustrasi: Sekolah Sultan Iskandar Muda di Medan, Sumatra Utara. (KalderaNews.com/Dok.SIM)
Ilustrasi: Sekolah Sultan Iskandar Muda di Medan, Sumatra Utara. (KalderaNews.com/Dok.SIM)

MEDAN, KalderaNews.com – Kepala Badan Standar Kurikulum, Asesmen, dan Perbukuan (BSKAP), Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Anindito Aditomo mengunjungi Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) di Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.

Yayasan ini adalah salah satu lembaga pendidikan yang telah menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila dengan baik sejak lama. Kerja sama lintas budaya dan agama yang dikelola yayasan ini selama bertahun-tahun baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional menjadi bukti eksistensi sekolah tersebut.

Rombongan BSKAP disambut anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan sebagai pendiri yayasan ini.

BACA JUGA:

Untuk mencegah penularan Covid-19, penerapan protokol kesehatan sudah dilaksanakan dengan baik di sekolah. Memakai masker serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir adalah rutinitas wajib yang dilakukan siswa sebelum masuk ke dalam kelas. Harmoni kebinekaan dalam suasana yang damai terasa ketika memasuki gedung sekolah yang berdiri sejak tahun 1987 di lahan seluas 1.500 meter persegi tersebut.

Di lobi sekolah, terdapat hiasan pohon Mei Hwa (plum blossom) yang merupakan ornamen pada perayaan Imlek. Uniknya, bunga yang menjadi simbol kemakmuran, kesejahteraan, keberuntungan, dan kebahagiaan ini dibuat secara bergotong royong tidak hanya oleh para siswa dari etnis Tionghoa saja, namun melibatkan seluruh siswa dari berbagai latar belakang budaya.

Menyusuri lorong-lorong kelas, nampak para siswa belajar di kelas secara hibrida dengan penuh antusiasme. Sofyan Tan mengatakan, mereka berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang beragam. Tetapi, toleransi dan keadilan diajarkan sedini mungkin secara riil. Inilah falsafah hidup yang menurutnya harus melekat dalam jiwa anak-anak Indonesia.

“Niat saya mendirikan sekolah ini utamanya adalah agar anak-anak khususnya yang tidak mampu, dapat mengenyam pendidikan di sekolah bermutu. Karena dengan pendidikanlah mereka bisa keluar dari kemiskinan dan mengangkat martabat keluarganya,” kata Sofyan Tan.

Sofyan Tan berkisah, pada awal sekolah ini beroperasi, ia harus mengetuk satu per satu pintu rumah warga yang tidak mampu agar para orang tua mau menyekolahkan anak-anak mereka tanpa memikirkan biaya.

Banyak yang meragukan langkah berani yang ia lakukan kala itu, karena tidak mudah untuk menerobos stigma negatif masyarakat. Termasuk sumber daya yang masih minim menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan mimpinya.

“Tidak hanya mengijinkan anak-anak miskin bersekolah di tempat saya, malah sering kali dulu saya malah memberi mereka uang untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Sofyan Tan.

Di ujung lorong kelas, terdapat fasilitas lengkap yang ada di sekolah. Tempat ibadah bagi umat beragama Islam, Hindu, Budha, Katolik dan Kristen, dan Konghucu dibangun berdampingan.

“Sering kali, jika sudah tiba waktunya beribadah, antarsesama anak-anak saling mengingatkan temannya meski mereka berbeda agama. Bahkan ada anak yang ketika ingin bermain dengan salah satu teman yang beragama lain namun temannya itu sedang beribadah maka anak tadi menunggu dengan sabar,” tutur Kepala SD, Vina yang menjabat sebagai kepala sekolah sejak tahun 2007.

Sejak YPSIM berdiri, yayasan ini telah memfasilitasi layanan pendidikan kepada 5.383 siswa. Untuk tahun pelajaran 2021-2022, jumlah siswa mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan SMK sebanyak 3.400 orang. Sedangkan, siswa anak asuh yang saat ini sedang belajar ada 478 orang dan siswa yang mendapat pengurangan uang sekolah berjumlah 1.300 orang.

Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu, sekolah menerapkan sistem pola asuh silang berantai. Mantan anak asuh yang telah sukses diharapkan bisa menjadi orang tua asuh bagi adik-adik di sekolahnya. Siswa yang berhasil masuk kuliah di PTN, disediakan program Sofyan Tan Scholarship.

Di sekolah ini juga terdapat Aula Bung Karno, fasilitas yang setara dengan gedung bioskop berlantai lima ini begitu nyaman untuk digunakan menonton film maupun menyaksikan penampilan para siswa.

Kunjungan Kepala BSKAP di skeolah Yayasan Sultan Iskandar Muda Medan. (Dok.Kemendikbudristek)

Sebelum meninggalkan kompleks yayasan, Anindito menyampaikan apresiasi atas upaya Sofyan Tan. Menurutnya, YPSIM telah berhasil menjalankan konsep Profil Pelajar Pancasila sejak bertahun-tahun secara berkesinambungan. “Seluruh nilai Pancasila sudah dipraktekkan lebih dahulu di sini. Terima kasih atas kontribusinya yang luar biasa bagi dunia pendidikan,” katanya.

Kepala BSKAP, Anindito Aditomo optimistis bahwa pembangunan dunia pendidikan di Indonesia akan terakselerasi lebih cepat dengan gotong royong semua insan pendidikan di berbagai lintas sektor. Maka, ia mendorong agar praktik baik di YPSIM dapat berlangsung di masyarakat secara masif, berkelanjutan dan kian inovatif demi mewujudkan SDM unggul yang berkarakter pancasilais.

Pelajar Pancasila sendiri adalah perwujudan pelajar Indonesia yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat, memiliki kompetensi global, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Enam ciri utamanya, yaitu: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*