
JAKARTA, KalderaNews.com – Kini, kasus terkait jurnal predator kian marak. Nah, yuk simak cara mengenali jurnal predator! Kamu wajib tahu nih!
Publikasi ilmiah di jurnal memang penting, namun di era serba digital ini, keberadaan jurnal predator alias jurnal abal-abal perlu dicermati.
Disebut predator lantaran jurnal ini seolah menjadi “pemangsa” para akademisi yang sedang membangun reputasi publikasi ilmiah.
BACA JUGA:
- 7 Trik Mengatasi Publikasi Jurnal Scopus Berbayar Bagi Dosen, Coba Praktikkan!
- Benarkah Penggunaan AI untuk Menulis Artikel Ilmiah di Jurnal Terindeks Scopus Sudah Dilegalkan?
- Para Akademisi Wajib Tahu Nih, 5 Cara Cek ISSN Jurnal!
Apa itu jurnal predator?
Jurnal predator merupakan jurnal atau penerbit ilmiah yang tidak mengikuti standar etika dan praktik publikasi yang baik.
Jurnal-jurnal ini kerap menerbitkan artikel tanpa proses peer-review yang ketat, bahkan tanpa proses review sama sekali.
Tujuannya hanya semata mendapatkan keuntungan finansial dari biaya publikasi yang dibebankan kepada penulis.
Tentu, jurnal ini seringkali meniru model jurnal akses terbuka yang sah, namun tanpa menyediakan proses peninjauan sejawat yang berkualitas.
Bahkan, jurnal-jurnal ini bisa memasuki indeks jurnal terkemuka macam Scopus, Medline, dan Web of Science.
Pada umumnya, jurnal pemangsa ini menarik biaya penerbitan berkisar 100 sampai 400 Dollar AS atau sekira Rp 1,5 juta hingga Rp 6 juta.
Trik kenali jurnal predator
So, inilah trik mengidentifikasi atau mengenali jurnal pemangsa:
Kualitas website rendah
Website jurnal berkualitas biasanya baik. Dan sebaliknya, website jurnal predator pada umumnya memiliki kesalahan tata bahasa, salah ketik, gambar buram, serta terlihat tidak professional.
Ini salah satu ciri jurnal pemangsa yang bisa kamu amati.
Biaya publikasi tak transparan
Ketidakjelasan biaya pemrosesan artikel ilmiah menjadi satu penanda jurnal pemangsa.
Kerap kali biaya tak disosialisasikan secara jelas, bahkan, bisanya besaran biaya diberitahu ketika artikel ilmiah sudah diterima.
Promosi yang agresif
Jurnal pemangsa ini biasanya akan mengirimkan email yang tidak diminta kepada para akademisi. Biasanya isi email menawarkan kesempatan menerbitkan artikel dengan cepat serta biaya rendah.
Klaim indeks tidak valid
Penerbit jurnal pemangsa sering mengklaim jurnalnya telah terindeks database jurnal terkemuka, macam Scopus atau DOAJ.
So, sebaiknya cek ulang di database tersebut apakah jurnal yang kamu tuju ada dalam daftar. Selain itu, kamu bisa memeriksa nomor ISSN jurnal untuk memastikan.
Proses peer-review palsu
Jurnal predator kerap menawarkan tinjauan yang cepat dan tentu tidak kritis.
Di banyak kasus, bahkan artikel diterima dan dipublikasikan apa adanya tanpa ada proses peer-review yang tepat. Kamu bisa mengidentifikasinya dengan melihat waktu peer-review atau publikasi yang dilakukan.
Masuk “daftar hitam”
Mengutip laman Sistem Penilaian Angka Kredit Dosen Kemdikbudristek, jurnal yang besar kemungkinan predator ada dalam daftar beberapa situs. Salah satunya bisa dilihat dalam laman https://beallslist.net/.
Nah, jika masih ragu, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan pembimbing akademik di universitas kamu.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply