
SALATIGA, KalderaNews.com – Ketegangan dan konflik di lingkungan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) semakin memuncak. Penelusuran KalderaNews.com, ulasan terkini terkait konflik ini diunggah oleh Akun Facebook Bekti Wiratmaka pada Rabu, 18 Juni 2025.
Diuraikan dalam utasan bertajuk “Ulasan Seorang Kawan”, aksi unjuk rasa mahasiswa yang berlarut-larut hingga berujung pada upaya hukum, dinilai sebagai ultimatum keras dari seluruh civitas akademika kepada Rektor dan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW).
Kondisi ini diperparah setelah dialog antara Pembina YPTKSW dan civitas akademika pada 4 Juni 2025 tidak menghasilkan apa-apa. Dalam dialog tersebut, Rektor justru mempersilakan stakeholder dan civitas akademika menempuh jalur hukum jika diperlukan. Sikap ini memicu kemarahan yang kian memuncak di kalangan civitas akademika, yang merasa rektor dan pembina YPTKSW tidak peduli dan terkesan memanfaatkan setiap kondisi kemarahan yang terabaikan.
BACA JUGA:
- Sikapi Konflik dan Krisis Internal yang Berkepanjangan, UKSW Kedepankan Dialog Gerejawi
- Krisis UKSW Makin Memuncak, Dialog “Satya Wacana Berdialog” Gagal Redakan Konflik, Mahasiswa Lakukan Mosi Tidak Percaya ke Rektor
- 3 Pejabat Senior FH UKSW yang Dicopot “Seret” Rektor Intyas Utami ke Jalur Hukum
Beberapa pihak menduga, pembiaran terhadap kemarahan civitas akademika ini merupakan kesengajaan yang hendak dimanfaatkan oleh Rektor dan Pembina. Bahkan, penggantian pengurus YPTKSW baru-baru ini juga dicermati sebagai potensi upaya manipulasi jejak fraud di lembaga Pembina YPTKSW.
Peringatan keras juga disampaikan kepada civitas akademika yang skeptis dan oportunis, yang merasa tidak menerima manfaat dari konflik di UKSW. Mereka diimbau untuk tidak menjadi korban dari kebijakan Rektornya sendiri dan disarankan untuk menjauh dari “rezim tidak patut” atau berisiko terisolasi dan tidak populer. Rektor UKSW dan Pembina YPTKSW saat ini dianggap sebagai “rezim tidak patut” yang tega menjadikan warganya sebagai tameng hidup atau human shield.
“Jangan biarkan rezim ini menjadikan Anda sebagai perisai manusia,” demikian seruan yang disampaikan.
Ultimatum keras dari civitas akademika dan Fakultas Hukum ini bukan muncul dari hal “remeh temeh”. Dikhawatirkan, gelombang berikutnya akan memperpanjang konflik dan menyebabkan collateral damage yang membutuhkan waktu lama untuk pemulihan dan rekonsiliasi di kampus. Sistem peringatan dini bagi gereja-gereja pendukung/pendiri juga diminta untuk terus diaktifkan, agar Pembina yang tidak peka tidak mengancam ajaran “Kasih” di UKSW.
Situasi kampus semakin tegang, dengan kekhawatiran eskalasi besar yang bisa melibatkan kekuatan internal dan eksternal lain jika perlawanan dalam bentuk upaya hukum telah dimulai. Meskipun berbagai pihak telah menyerukan deeskalasi dan dialog, Rektor dan Pembina YPTKSW disebut-sebut tidak mengindahkannya.
Upaya hukum yang ditempuh oleh stakeholder, civitas akademika, dan Fakultas Hukum dianggap sebagai upaya terakhir (ultimum remedium). Namun, disayangkan, langkah ini diduga dapat dimanfaatkan oleh Rektorat dan Pembina dengan harapan jabatan mereka telah berakhir ketika putusan hukum berkekuatan tetap (inkracht van gewijsde). Hal ini dinilai sebagai saran/rekomendasi upaya hukum yang menyesatkan, tidak bermartabat, dan merusak citra pencari keadilan.
Meskipun demikian, konflik ini disebut-sebut menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa FH khususnya dan UKSW pada umumnya. Tidak semua mahasiswa di perguruan tinggi lain di Indonesia dapat belajar seperti mahasiswa UKSW dalam konflik ini. Yang perlu dicatat, menurut peninjau ini, adalah salah pilih rektor dan kebijakan rektor yang berakibat fatal.
Dibutuhkan usulan pembentukan Dewan Kehormatan ad hoc untuk membekukan Dewan Pembina Yayasan dan mengganti Rektor. Mahasiswa/Civitas Akademika juga dapat meminta Kementerian dan Komnas HAM untuk datang ke UKSW guna melaksanakan supervisi HAM. “Berhenti bicara pada tembok, barang yang ‘mati peka’ (buta, tuli & bisu),” tutup ulasan tersebut.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply