Urun Rembuk LLDikti III-Paramadina, PTS Mitra Strategis, Bukan Sekadar Pelengkap

Forum strategis bertajuk “Urun Rembuk Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS)” di Kampus Cipayung, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025)
Forum strategis bertajuk “Urun Rembuk Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS)” di Kampus Cipayung, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025) (KalderaNews/Dok. Paramadina)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III bersama Universitas Paramadina menggelar forum strategis bertajuk “Urun Rembuk Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS)” di Kampus Cipayung, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025).

Forum ini menjadi ruang dialog krusial bagi para pimpinan PTS di DKI Jakarta untuk merumuskan arah pendidikan tinggi yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.

Kepala LLDikti Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, menegaskan bahwa kemajuan pendidikan tinggi tidak bisa dilakukan secara parsial.

BACA JUGA:

Forum ini hadir sebagai wadah konstruktif untuk menyaring aspirasi pimpinan PTS dalam menghadapi tuntutan transformasi digital, peningkatan mutu, hingga penyelarasan lulusan dengan dunia kerja.

PTS Sebagai Mitra Strategis, Bukan Pelengkap

Dalam diskusi tersebut, peran besar PTS dalam peta pendidikan nasional menjadi sorotan utama. Rektor Universitas Yarsi, Prof. Dr. H. Fasli Jalal, memaparkan data bahwa dari sekitar 9,8 juta mahasiswa di Indonesia, sebanyak 46 persen menempuh pendidikan di PTS.

“PTS bukan sekadar pelengkap sistem, melainkan mitra strategis negara. Bahkan, rasio dosen dan mahasiswa di PTS saat ini sudah lebih baik dibandingkan PTN. Kontribusi ini sangat signifikan dalam meningkatkan ekonomi keluarga melalui pendidikan,” tegas Prof. Fasli.

Senada dengan hal itu, Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amalia, mengingatkan bahwa posisi PTS adalah mitra negara dalam pemerataan akses pendidikan.

Ia menekankan agar kebijakan pemerintah tidak hanya berhenti pada tataran normatif, tetapi benar-benar berdampak nyata di lapangan.

Dukungan Anggaran dan Kolaborasi PTN-PTS

Kabar baik datang dari Kemdiktisaintek melalui Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Prof. Mukhamad Najib.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah memberikan dukungan serius bagi riset di sektor swasta. Saat ini, proporsi pendanaan penelitian oleh Kemdiktisaintek terhadap PTS telah mencapai 60%, porsi yang kini lebih besar dibandingkan PTN.

“Ini bukan soal persaingan antara PTN dan PTS. Kita harus membuka paradigma kolaboratif. PTS bisa bekerja sama dengan PTN melalui program fast track, konsorsium riset, hingga pertukaran dosen dan mahasiswa,” jelas Prof. Mukhamad.

Langkah ini dinilai penting agar perguruan tinggi Indonesia mampu mencapai kelas dunia dan mentransfer teknologi demi inovasi bangsa.

Tantangan Regulasi dan Dampak Sosial

Sekretaris Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Ir. Wijayanto Samirin, turut berbagi pengalaman mengenai jatuh bangun PTS, termasuk Universitas Paramadina yang baru memiliki kampus sendiri setelah 25 tahun.

Ia menyebut universitas sebagai bentuk sociopreneurship yang berorientasi pada peradaban, bukan sekadar profit.

“Agar PTS berkembang, diperlukan kepastian iklim usaha dan regulasi yang lebih sederhana serta adil. Kami ingin universitas swasta difasilitasi maksimal agar Indonesia punya perwakilan di jajaran universitas terbaik dunia,” ujarnya.

Kegiatan urun rembuk ini berhasil merumuskan kesepakatan strategis yang berfokus pada tiga agenda besar sebagai komitmen nyata dalam memajukan dunia pendidikan nasional.

Pertama, para pemangku kepentingan berkomitmen untuk mengurangi kesenjangan kualitas antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) agar standar mutu pendidikan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh mahasiswa.

Kedua, forum ini menekankan pentingnya peningkatan daya saing perguruan tinggi Indonesia agar mampu berbicara banyak, baik di tingkat nasional maupun di kancah global melalui inovasi dan talenta unggul.

Terakhir, agenda masa depan ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan, guna memastikan sektor pendidikan swasta mampu terus memberikan dampak jangka panjang bagi peradaban dan kemajuan bangsa.

Forum ini diharapkan menjadi titik awal bagi kebijakan yang lebih adaptif dari LLDikti Wilayah III dalam mengawal PTS menuju visi Indonesia Emas 2045, dengan semangat “Diktisaintek Berdampak” bagi kesejahteraan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*