
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Awal tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi para pemburu saham dengan potensi kenaikan berkali lipat atau multibagger.
Di tengah riuhnya prediksi pasar, pandangan Yudo Achilles Sadewa, putra dari Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, mencuri perhatian komunitas investor.
SIMAK JUGA: Yudo Sadewa, Anak Menteri Keuangan Ramai Jadi Sorotan Usai Sindir Mahasiswa Demo karena Dibayar
Melalui podcast “Cuap Cuap Cuan”, Yudo membedah peta jalan investasi tahun ini, mulai dari kejutan di grup konglomerasi hingga sektor komoditas yang diprediksi akan “meledak”.
Target MSCI: Saham Grup Bakrie & Hapsoro Jadi Sorotan
Salah satu poin paling menarik adalah optimisme Yudo terhadap emiten-emiten yang terafiliasi dengan grup Bakrie dan Hapsoro. Ia memproyeksikan saham-saham ini akan memiliki performa impresif hingga kuartal II dan III 2026.
Alasan utamanya bukan sekadar spekulasi, melainkan langkah strategis perusahaan-perusahaan tersebut untuk masuk ke dalam indeks global bergengsi, MSCI.
“Apalagi dia ngejar masuk MSCI. Menurut gua saham-sahamnya Pak Bakrie atau Pak Hapsoro udah oke juga sih,” ungkap Yudo.
Logam Mulia Kalahkan Batu Bara
Dari sisi komoditas, Yudo melihat adanya pergeseran minat. Ia menilai saham pertambangan emas dan perak akan memberikan keuntungan (gain) yang jauh lebih besar dibandingkan harga fisiknya.
Sebaliknya, ia menyarankan investor untuk lebih berhati-hati pada sektor batu bara di kuartal I-2026.
- Emas/Perak: Menjadi primadona karena harga sahamnya cenderung mengikuti lonjakan harga komoditas dunia dengan daya ungkit (leverage) yang lebih besar.
- Batu Bara: Dinilai kurang atraktif karena prospek cuannya dianggap tidak semenarik logam mulia untuk jangka pendek.
Strategi “Keong” untuk Perbankan Blue Chip
Untuk investor yang memiliki profil risiko moderat dan mencari stabilitas, Yudo tetap merekomendasikan tiga pilar utama perbankan nasional: BBCA, BBRI, dan BMRI.
Meskipun ia menjuluki pergerakan harganya lambat “seperti keong”, saham-saham ini tetap menjadi jangkar terbaik untuk portofolio jangka panjang.
Yudo juga menyinggung fenomena bank digital, mengambil contoh gejolak harga pada IPO Super Bank Indonesia (SUPA) yang sempat mengalami euforia ARA (Auto Rejection Atas) sebelum akhirnya berbalik anjlok.
Bagi investor yang berani bermain di saham-saham high volatility atau IPO, Yudo membagikan satu tips teknis yang krusial:
Gunakan Trailing Stop 5%. Sistem otomatis ini akan mengunci keuntungan atau membatasi kerugian secara instan jika harga berbalik arah sebesar 5% dari titik tertingginya.
Strategi Investasi 2026 ala Yudo Sadewa:
- Sektor Multibagger: Emiten Grup Bakrie & Hapsoro (Target: Inklusi MSCI).
- Sektor Komoditas: Tambang Emas & Perak (Fokus pada kenaikan harga logam mulia).
- Sektor Stabil: Perbankan Big Caps (BBCA, BBRI, BMRI).
- Sektor Spekulatif: Bank Digital & IPO (Contoh: SUPA).
- Manajemen Risiko: Disiplin trailing stop 5% untuk menjaga modal.
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply