JAKARTA, KalderaNews.com – Jika biasanya program magang identik dengan mahasiswa tingkat akhir, pemandangan berbeda terlihat di Sekolah Cikal.
Sebanyak 172 murid kelas 10 atau setara kelas 1 SMA dari berbagai kampus Cikal di Indonesia baru saja menuntaskan program magang profesional selama dua minggu pada Januari 2026.
Langkah berani ini diambil sebagai bagian dari mata pelajaran Career Exploration 10.
BACA JUGA:
- Magang Kemendiktisaintek 2026 Batch 1 Dibuka, Ini Syarat dan Formasinya
- Dari Panti Asuhan di Gresik ke Podium Korea: Misi Dua Siswi SMA Cikal Lawan Ketimpangan Belajar
- Murid SMA Cikal Memburu Sampah Plastik di Pangrango
Para remaja ini tidak hanya duduk di balik meja kelas, tetapi diterjunkan langsung ke berbagai perusahaan mitra untuk merasakan kerasnya dinamika dunia kerja sejak dini.
Eksplorasi Karier Sebelum Pilih Jurusan Kuliah
Program ini dirancang bukan tanpa alasan. Menurut Ayunda Shabriani Tyara, Koordinator Magang SMA Cikal Lebak Bulus, magang di usia SMA adalah fase eksplorasi awal. Tujuannya agar murid tidak “membeli kucing dalam karung” saat menentukan jurusan kuliah nanti.
“Program ini membekali anak dengan pengalaman nyata yang relevan dengan dunia kerja. Mereka belajar merefleksikan pengalaman magang ini menjadi perencanaan pendidikan tinggi dan karier yang lebih matang,” jelas Ayunda.
Para siswa tidak asal ditempatkan. Sekolah menggunakan indikator ilmiah berupa tes minat bakat (Strong Interest Inventory).
Hasil tes tersebut kemudian didiskusikan secara tiga arah antara murid, orang tua, dan konselor sekolah untuk memastikan tempat magang sesuai dengan aspirasi mereka.
Mengasah “Mental Baja” di Dunia Nyata
Selain teknis pekerjaan, fokus utama magang SMA ini adalah pembentukan karakter atau 5 Stars Competencies Cikal. Di lapangan, para siswa dituntut untuk:
- Mandiri dan Inisiatif: Menyelesaikan tugas tanpa terus-menerus didampingi guru.
- Kerja Sama Tim: Berkolaborasi dengan staf profesional yang usianya jauh di atas mereka.
- Keseimbangan (Balance): Mengelola tanggung jawab pekerjaan sekaligus menjaga kesejahteraan diri.
Nerinda Rizky Firdaus, Konselor SMA Cikal Surabaya, menekankan bahwa pintar secara akademik saja tidak cukup.
“Kami ingin murid punya ketangguhan mental dan sosial untuk menghadapi persoalan dunia nyata yang tidak selalu bisa diprediksi,” ungkapnya.
Menyiapkan Generasi “Thrive for Life”
Senada dengan itu, Mulia Mukminina dari SMA Cikal Serpong menyebut magang ini sebagai “media praktikum kehidupan”. Dengan melihat langsung tuntutan dunia kerja masa kini, kesadaran siswa akan pentingnya nilai dan potensi diri terbuka lebih lebar.
Hingga saat ini, program tersebut diikuti oleh persebaran murid yang cukup luas:
- SMA Cikal Serpong: 76 murid
- SMA Cikal Lebak Bulus: 50 murid
- SMA Cikal Amri Setu: 35 murid
- SMA Cikal Surabaya: 11 murid
Melalui pengalaman langsung yang aman namun terarah ini, Sekolah Cikal membuktikan bahwa persiapan karier tidak harus menunggu ijazah sarjana, melainkan bisa dimulai sejak bangku SMA.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply