
Eksodus WNI meningkat pasca-pandemi. Data BPS catat 150 ribu orang pindah ke luar negeri tiap tahun demi gaji & karir yang layak.
JAKARTA, KalderaNews.com – Indonesia kini tengah menghadapi alarm serius terkait mobilitas penduduknya. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sebuah fenomena mencengangkan: jumlah penduduk yang keluar dari Indonesia kini jauh lebih besar dibanding mereka yang datang atau kembali ke Tanah Air.
Kondisi ini tercermin langsung dari angka migrasi neto internasional Indonesia yang kembali mencatatkan nilai negatif berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.
BACA JUGA:
- KaburAjaDulu, Bukan Sekadar Viral-viralan
- Alamak, Ternyata Pengangguran Jawa Barat Tertinggi Ke-3 Nasional
- Duh, Pengangguran di Indonesia Masih Didominasi Lulusan SMK dan SMA
Tren eksodus atau perpindahan WNI ke luar negeri ini kembali menguat pasca-pandemi COVID-19, memicu kekhawatiran mendalam terkait potensi hilangnya talenta-talenta terbaik bangsa (brain drain).
Membedah Data BPS: Indonesia Minus 53 Orang per 100 Ribu Penduduk
Berdasarkan laporan resmi BPS, angka migrasi keluar internasional Indonesia saat ini mencapai 114 orang per 100.000 penduduk setiap tahunnya.
Angka ini timpang jauh jika dibandingkan dengan angka migrasi masuk (mereka yang datang atau kembali) yang hanya berada di level 61 orang per 100.000 penduduk.
Selisih yang lebar ini membuat angka migrasi neto internasional Indonesia tercatat minus 0,53 per 1.000 penduduk.
“Berdasarkan SUPAS, angka migrasi neto internasional tercatat minus 0,53. Hal ini berarti terdapat pengurangan penduduk akibat migrasi internasional rata-rata 53 orang per 100 ribu penduduk setiap tahunnya,” tulis BPS dalam keterangannya.
Jika dikalkulasikan dengan total jumlah penduduk Indonesia saat ini yang mencapai 284,67 juta jiwa, angka tersebut setara dengan 150.875 warga negara Indonesia (WNI) yang memilih berpindah dan menetap di luar negeri setiap tahunnya.
Sebagai perbandingan, tren ini meningkat tajam dibanding periode sebelumnya:
- Sensus Penduduk 2020 (LF SP): Migrasi neto hanya minus 11 orang per 100.000 penduduk (Migrasi masuk 43, keluar 32).
- SUPAS 2015: Migrasi neto minus 50 orang per 100.000 penduduk (Migrasi masuk 36, keluar 86).
Fenomena #KaburAjaDulu: Berburu Gaji dan Kualitas Hidup
Di media sosial, fenomena ini diperkuat oleh viralnya tagar #KaburAjaDulu yang diunggah hingga ratusan ribu kali. Gerakan ini mayoritas digerakkan oleh generasi muda berusia 18–35 tahun dengan latar belakang pendidikan tinggi (diploma dan sarjana) dari kalangan menengah hingga menengah atas.
Bukan tanpa alasan, riset dari Populix menunjukkan bahwa 82% responden ingin bekerja di luar negeri demi mendapatkan penghasilan yang lebih baik, kepastian karier, dan kualitas hidup yang lebih layak.
Sebut saja Edwin Yusuf Abdullah (39), seorang hotel revenue strategist asal Jakarta yang memilih pindah ke Bangkok, Thailand sejak 2023. Di sana, ia mendapatkan kompensasi 50 hingga 60 persen lebih tinggi untuk keahlian yang sama.
“Sebenarnya skill saya ini cukup diperlukan di Indonesia juga. Tapi masalahnya adalah kompensasinya. Saya lebih dihargai di Thailand daripada di Indonesia,” aku Edwin.
Tekanan Lapangan Kerja Domestik dan Sektor Formal yang Goyah
Anak-anak muda berpendidikan tinggi di Indonesia kini berhadapan dengan realita pasar tenaga kerja domestik yang meredup.
Dari sekitar 7 juta penganggur di Indonesia (hampir 5% dari angkatan kerja), lebih dari 1 juta di antaranya adalah lulusan universitas. Lebih parah lagi, tingkat pengangguran usia muda (15–24 tahun) melesat di atas 16%.
Beberapa faktor utama penekan lapangan kerja domestik meliputi:
- Penurunan Sektor Manufaktur: Kontribusi manufaktur terhadap PDB merosot hingga mendekati 19% (turun dari 28% pada tahun 2004), sehingga tidak mampu lagi menjadi penyerap utama tenaga kerja terampil.
- Badai Sektor Perhotelan & Startup: Efek pemotongan anggaran perjalanan dinas pemerintah senilai Rp306,7 triliun memaksa 10–30% pelaku usaha perhotelan mengurangi karyawan. Ditambah lagi, pendanaan startup teknologi di Indonesia yang anjlok dua pertiga membuat sektor digital ikut goyah.
- Pergeseran ke Sektor Informal: Akibat sulitnya mencari kerja formal, 44,3% tenaga kerja muda terpaksa masuk ke sektor informal (seperti ojek online) yang minim perlindungan sosial dan bergaji rendah.
Dampak Ekonomi: RI Berpotensi Rugi hingga Rp16 Triliun per Tahun
Arus keluar tenaga terampil (human flight) ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-90 dari 179 negara dalam indikator human flight and brain drain yang dirilis oleh Fund for Peace—salah satu posisi terburuk di Asia Tenggara di bawah Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
Ah Maftuchan, Direktur Eksekutif Centre for Welfare Studies (Prakarsa), memperkirakan dampak brain drain ini bisa merugikan perekonomian Indonesia sebesar US$500 juta hingga US$1 miliar (setara Rp8–16 triliun) per tahun.
Kerugian ini berasal dari hilangnya produktivitas, potensi penerimaan pajak, serta penurunan indeks modal manusia (Human Capital Index).
Respons Pemerintah: Menyediakan Jalur Migrasi Resmi
Menyikapi tingginya minat WNI bekerja di luar negeri, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memilih langkah memfasilitasi penempatan kerja yang aman dan legal agar para perantau dapat menyerap ilmu dan kembali sebagai tenaga ahli.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan bahwa saat ini portal resmi Pekerja Migran Indonesia menyediakan 278.984 lowongan kerja di 40 negara.
Berikut adalah 5 negara tujuan utama dengan lowongan kerja terbesar bagi WNI saat ini Taiwan, Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Arab Saudi.
Meskipun jalur resmi dibuka lebar, para ahli mengingatkan pemerintah untuk tetap fokus membenahi kepastian hukum, memberantas korupsi birokrasi, dan merevitalisasi industri dalam negeri.
Jika tidak, target besar Indonesia Emas 2045 terancam gagal akibat bonus demografi yang justru memilih pergi membangun negara orang lain.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply