
Kemdiktisaintek tantang pemimpin kampus untuk lakukan transformasi, perkuat jejaring kolaborasi, dan hadirkan perubahan nyata.
JAKARTA, KalderaNews.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara tegas mendorong para pemimpin perguruan tinggi di Indonesia untuk keluar dari zona nyaman.
Melalui penguatan kapasitas kepemimpinan, para pimpinan kampus ditantang agar mampu melihat perubahan zaman secara luas, memperkuat jejaring kolaborasi lintas institusi, serta menerjemahkan setiap pembelajaran menjadi aksi nyata di kampus masing-masing.
Pentingnya Kepemimpinan Transformatif dan Berwawasan Global
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, saat menutup rangkaian Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) tahap pertama pada Selasa (8/9).
BACA JUGA:
- Duh! Korupsi Penerimaan Maba, KPK: Fenomena Jamak Perguruan Tinggi
- Viral Kabar 60 Ribu Calon Maba Tak Daftar Ulang SNBP, UKT Jadi Pemicu
- Ternyata, Ini 2 Kampus Negeri yang Disidak KPK, Banyak Aduan Penerimaan Mahasiswa Baru
Menurut Sesjen Badri, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang melimpah dan dapat menjadi motor penggerak utama dalam melakukan transformasi pendidikan tinggi.
Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan gaya kepemimpinan yang adaptif dan visioner.
“Kepemimpinan pendidikan tinggi perlu dibangun dengan perspektif yang luas dan kemampuan untuk membawa perubahan. Pemimpin perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mampu mengelola institusi, tetapi juga memiliki visi, integritas, kemampuan beradaptasi, serta wawasan global,” ujar Sesjen Badri.
Karakter pemimpin yang dicari saat ini meliputi sosok yang visioner, berintegritas, transformatif, adaptif, serta memiliki kepekaan terhadap dinamika global guna menghadapi kompleksitas tantangan zaman yang kian dinamis.
Semangat Kolaborasi dan Jaringan Antar-Perguruan Tinggi
Kemdiktisaintek menilai bahwa kemajuan dunia pendidikan tinggi di Indonesia tidak akan tercapai jika setiap kampus berjalan sendiri-sendiri.
Kekuatan sektor pendidikan tinggi akan berlipat ganda ketika institusi-institusi pendidikan saling belajar, berkonsolidasi, dan berbagi pengalaman terbaik (best practices).
Jejaring yang telah mulai dibangun dan dirajut selama program AKPT diharapkan tidak berhenti setelah acara selesai.
Sesjen Badri menekankan pentingnya menjaga konektivitas tersebut untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan institusional dan merumuskan langkah strategis bersama.
Dari Ruang Diskusi Menuju Perubahan Nyata di Kampus
Program AKPT dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial penambahan wawasan semata, melainkan sebuah perjalanan belajar (learning journey) yang terintegrasi.
Para peserta diajak untuk melakukan refleksi mendalam terhadap kondisi institusi mereka saat ini—mengevaluasi aspek yang sudah berjalan dengan baik, menemukan area yang perlu perbaikan, serta merancang peta jalan perubahan.
Keberhasilan program ini nantinya tidak diukur dari seberapa megah acara penutupannya, melainkan diukur dari dampak nyata di lapangan.
“Keberhasilan AKPT pada akhirnya tidak diukur dari selesainya kegiatan, namun dari sejauh mana pembelajaran yang dapat diperoleh, diterjemahkan menjadi perubahan nyata di masing-masing perguruan tinggi,” pungkas Badri Munir Sukoco.
Melalui ekosistem kepemimpinan yang dibangun oleh Kemdiktisaintek ini, dunia pendidikan tinggi, sains, dan teknologi diharapkan semakin inklusif, adaptif, serta mampu memberikan dampak langsung bagi kemajuan bangsa, pengembangan talenta unggul, hingga transformasi ekonomi dan sosial di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply