
JAKARTA, KalderaNews.com – Ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, provinsi Bali belum bisa membaca dengan lancar.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng I Made Sedana, menyampaikan jika ratusan siswa SMP di daerahnya belum bisa membaca dengan lancar.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Buleleng, terdapat sekitar 400-an siswa SMP yang kesulitan membaca.
BACA JUGA:
- Parah, Puluhan Siswa SMP di Jawa Barat Tidak Bisa Baca, Dampak Kurikulum Merdeka?
- Daftar Negara dengan Penduduk Paling Rajin Baca Buku versi CeoWorld, Indonesia di Nomor Berapa?
- 6 Tip Agar Selalu Punya Waktu buat Membaca Buku, Pelajar Wajib Tahu
Sedana mengatakan, faktor utama persoalan ini bisa terjadi karena kebijakan naik kelas otomatis atau program tuntas tanpa mengukur penguasaan kompetensi dasar siswa.
“Angkanya mengejutkan, jadi ada 400-an anak yang tidak bisa membaca dengan lancar, artinya masih mengeja. Tidak selayaknya anak SMP yang membaca sudah tidak menjadi persoalan,” ungkapnya.
Upaya Mendikdasmen untuk atasi masalah kesulitan baca
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti pun merespons kabar ratusan siswa tingkat SMP di Buleleng, Bali, yang tak bisa membaca. Ia menyebut persentase siswa yang tidak bisa membaca masih tergolong kecil.
“Itu kami sudah komunikasi dengan Dinas Pendidikan di Buleleng. Jumlahnya itu ada sekitar 400 dari sekian puluh ribu murid, jadi presentasenya itu 0,0011% dan banyak mereka yang mengalami masalah itu,” kata Mu’ti di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2025).
Mu’ti mengatakan sebagian siswa tersebut tidak bisa membaca lantaran mengalami disleksia hingga berkebutuhan khusus. Selain itu, ada pula mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu.
“Sebagian dari anak-anak yang memang mengalami disleksia, anak-anak yang berkebutuhan khusus dan memang anak-anak dari keluarga yang kurang mendapatkan perhatian dengan baik. Sebagian karena ada alasan motivasi belajar yang rendah,” ujar Mu’ti.
Abdul Mu’ti mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan wilayah setempat terkait hal tersebut. Nantinya, pendampingan terhadap siswa yang belum bisa membaca akan ditingkatkan.
“Jadi kami sudah komunikasi dengan dinas pendidikan dan dinas pendidikan dan pihak terkait juga sudah membantu melayani murid-murid yang dianggap atau yang kemampuannya memang dianggap rendah. Dan karena itu maka langkah itu sudah ditindaklanjuti,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply