JAKARTA, KalderaNews.com– Media sosial dihebohkan oleh video seorang guru honorer yang menyampaikan curahan hatinya sambil menangis.
Dalam video tersebut, guru tersebut membandingkan gaji yang diterimanya dengan penghasilan sopir Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilainya jauh lebih besar.
Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan menuai perhatian luas dari warganet. Sang guru honorer mengungkapkan rasa pahit dan kecewa karena merasa jerih payahnya sebagai pendidik tidak sebanding dengan penghargaan finansial yang diterima, meski sama-sama dibiayai oleh anggaran negara.
BACA JUGA:
- Miris! Sepanjang 2025, KPAI Ungkap 12.658 Anak di 38 Provinsi Alami Keracunan MBG, Terbanyak Jawa Barat
- Lebih dari Seribu Anak Keracunan MBG Sepanjang Januari, JPPI: Sekolah Diduga Dibungkam
- MBG Akan Tetap Disalurkan Saat Bulan Puasa Ramadan, Makanan Bisa Tahan 12 Jam?
Adapun yang membuat situasi terasa semakin menyakitkan, menurut sang guru, adalah fakta bahwa sumber dana untuk membayar keduanya berasal dari pos anggaran pendidikan.
Meski tidak menyebutkan angka secara rinci, perbandingan itu menyoroti adanya kesenjangan penghasilan yang cukup mencolok antara profesi guru honorer dan pekerja lain dalam program pemerintah.
Guru honorer tersebut menekankan bahwa profesinya menuntut kualifikasi pendidikan minimal sarjana (S1), bahkan sebagian telah memiliki sertifikasi pendidik.
Namun, realitas kesejahteraan yang diterima masih jauh dari kata layak, sehingga menimbulkan rasa tidak dihargai secara finansial.
Warganet Turut Komentari Video yang Viral Tersebut
Video tersebut memicu ratusan komentar dengan beragam sudut pandang. Dari sisi guru, banyak warganet menyampaikan empati dan dukungan.
Mereka menilai guru honorer telah mengabdikan diri bertahun-tahun tanpa kepastian kesejahteraan, sementara profesi lain bisa memperoleh penghasilan lebih baik dalam waktu relatif singkat.
Namun, tidak sedikit pula komentar yang mengambil sudut pandang berbeda. Sebagian menyatakan bahwa setiap profesi memiliki proses dan tantangan masing-masing.
Ada pula yang membandingkan kondisi tersebut dengan penghasilan anggota DPR, atau memberikan saran pragmatis agar guru honorer mempertimbangkan untuk beralih profesi.
Di sisi lain, sejumlah komentar bernada sarkastik turut menyinggung janji peningkatan kesejahteraan guru yang dinilai belum kunjung terealisasi sejak pemerintahan sebelumnya. Perdebatan pun bergeser dari persoalan individu menjadi kritik terhadap sistem pengelolaan anggaran pendidikan.
Curahan hati guru honorer tersebut disebut bukan kasus terisolasi. Banyak pendidik honorer di berbagai daerah mengaku mengalami kondisi serupa.
Mereka menegaskan tidak menuntut kehidupan mewah, melainkan penghasilan yang cukup agar dapat mengajar dengan tenang tanpa dibebani persoalan ekonomi.
Pertanyakan Prioritas Anggaran Negara
Dalam praktiknya, tak sedikit guru honorer terpaksa mencari pekerjaan tambahan, mulai dari berdagang kecil-kecilan hingga bekerja serabutan, demi mencukupi kebutuhan keluarga. Situasi ini dinilai mengganggu fokus dan kualitas pengabdian mereka di dunia pendidikan.
Meski program MBG memiliki tujuan mulia, bagi sebagian guru honorer, kebijakan ini justru memunculkan pertanyaan mendasar tentang prioritas anggaran pendidikan.
Tangis sang guru dalam video viral itu pun dianggap mewakili kegelisahan ribuan guru honorer lain yang masih menunggu kejelasan dan keadilan dalam sistem pendidikan nasional.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply