Sosok Bu Atun, guru SMA Purwakarta tetap tegar usai dihina murid. Ia memilih memaafkan dan terus membina karakter siswa.
PURWAKARTA, KalderaNews.com– Peristiwa yang dialami seorang guru di SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah, menarik perhatian publik setelah sebuah video beredar luas dan memperlihatkan tindakan tidak sopan dari sejumlah siswa terhadap dirinya.
Dalam video tersebut, beberapa siswa terlihat melakukan gestur tidak pantas, seperti mengacungkan jari tengah serta menjulurkan lidah ke arah kamera ketika sang guru sedang membelakangi mereka.
Syamsiah, yang akrab disapa Bu Atun, merupakan guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang telah lama mengabdikan diri di dunia pendidikan.
BACA JUGA:
- Imbas Video Hina Guru Viral, Siswa Purwakarta Akhirnya Minta Maaf
- Viral Video Aksi Siswa SMA Purwakarta Hina Gurunya, Warganet Geram
- Skandal Chat Mesum FH UI, 16 Mahasiswa Terancam DO Massal
Menjadi guru sejak tahun 2023
Sejak tahun 2003, ia telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mendidik generasi muda dengan penuh kesabaran dan ketulusan.
Ironisnya, insiden tersebut terjadi tanpa sepengetahuan dirinya, sehingga ia tidak menyadari bahwa momen tersebut direkam hingga akhirnya viral di media sosial.
“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama.
Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” ungkap Syamsiah, menjelaskan kronologi kejadian yang membuatnya terkejut.
Kejadian ini tentu meninggalkan luka emosional, mengingat hubungan antara guru dan siswa seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati.
Meski demikian, Syamsiah memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia berusaha menguatkan diri dengan berpegang pada nilai-nilai keimanan yang selama ini diyakininya.
“Sedih itu manusiawi, tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya selamat dunia akhirat,” tuturnya dengan penuh keteguhan.
Ia mengaku, pengalaman tersebut merupakan kejadian pertama yang ia alami selama 23 tahun mengabdi sebagai seorang guru.
Sikap bijak dan ketegaran Syamsiah pun menuai simpati dari berbagai pihak, yang berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pendidikan.
Maafkan dan doakan siswa
Syamsiah menyatakan telah memaafkan para siswa yang terlibat dalam video viral tersebut. Tidak hanya memaafkan, ia juga mendoakan agar para siswa dapat menyadari kesalahan dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,” katanya.
“Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” tutur Syamsiah.
Ia juga menegaskan tidak memiliki niat untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.
“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat,” katanya.
Menurutnya, kenakalan remaja bukanlah sesuatu yang permanen. Setiap anak, menurutnya, memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik jika mendapatkan bimbingan yang tepat.
“Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” ujarnya.
Terkait kejadian di kelas, Syamsiah menjelaskan bahwa dirinya hanya berusaha menegakkan aturan serta menjaga kenyamanan siswa lain selama proses belajar berlangsung. Ia juga berupaya bersikap adil dengan tetap menghargai hak seluruh siswa.
Menurutnya, adab merupakan hal utama dalam menuntut ilmu dan harus menjadi landasan utama bagi setiap peserta didik.
“Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter, tapi mungkin belum sepenuhnya sampai. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing,” katanya.
Syamsiah berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak sekaligus momentum untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah.
“Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak,” ujarnya.
Sanksi sosial bagi siswa
Sebanyak sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat, dijatuhi sanksi sosial selama tiga bulan. Kepala sekolah, Sidik Tamsil, menyampaikan bahwa para siswa telah mulai menjalani sanksi tersebut sejak Senin (20/04/2026).
Meski demikian, mereka tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar dan memperoleh hak sebagai pelajar.
“Setelah kejadian, kami langsung memanggil orang tua pada Sabtu lalu. Atas arahan Disdik Jabar dan Gubernur, disepakati sanksi pembinaan selama tiga bulan,” katanya kepada wartawan di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).
Sebagai bagian dari sanksi, para siswa diminta melakukan kegiatan sosial seperti membersihkan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas dan fasilitas umum seperti toilet.
“(Sanksi) ini akan dievaluasi berdasarkan perubahan sikap para siswa,” ujar Sidik Tamsil.
Menurutnya, sanksi tersebut bertujuan untuk membentuk karakter siswa agar menjadi lebih baik.
“Mereka tetap belajar, tapi juga diberi tanggung jawab melalui kegiatan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Di sisi lain, pihak sekolah juga berupaya mengurangi dampak sosial yang mungkin timbul akibat viralnya video tersebut.
Para siswa yang terlibat menjadi sorotan publik dan berpotensi mengalami perundungan. Oleh karena itu, sekolah memberikan edukasi kepada siswa lain agar tetap menjaga sikap dan tidak memperkeruh suasana.
“Kami sudah melakukan pembinaan setelah apel pagi. Guru dan wali kelas diminta menenangkan siswa lain, agar tidak panik dan tetap menjaga lingkungan sekolah yang kondusif,” kata Sidik Tamsil.
Sebagai bentuk perlindungan, kesembilan siswa tersebut menjalani pembelajaran di ruang terpisah. Langkah ini diambil untuk menjaga kondisi psikologis mereka sekaligus memastikan proses belajar tetap berjalan dengan baik.
Sekolah juga melibatkan psikolog untuk memberikan pendampingan kepada para siswa. Selain itu, penggunaan gadget di lingkungan sekolah akan diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang.
“Kami ingin memastikan mereka bisa melewati masa ini dengan baik. Pendampingan psikolog dan pembatasan penggunaan gadget menjadi bagian dari upaya pembinaan ke depan,” ucap Sidik Tamsil.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply