JAKARTA, KalderaNews.com – Meniup terompet saat malam pergantian tahun, sudah menjadi tradisi, selain pesta kembang api. Bahkan di Indonesia, penjualan terompet akan melonjak jelang tahun baru seperti saat ini.
BACA JUGA:
- Waspada, Cuaca Esktrem Saat Liburan Tahun Baru
- Tips Paling Asyik Merancang Liburan Tahun Depan
- 5 Tips Bagi Orangtua Cegah Anak Kecanduan Gadget Saat Liburan
- Tips Tetap Sehat di Musim Hujan buat Anak Sekolah dan Mahasiswa
- Apa Saja 7 Alokasi Gaji Para Milenial? Yuk, Cek di Sini
Sebenarnya, budaya meniup terompet ini sudah ada sejak berabad-abad lalu. Dimulai oleh bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi sudah lama menggunakan terompet untuk mengumpulkan orang, terutama untuk beribadah di sinagoga. Selain itu, mereka juga menggunakan terompet untuk menandai pergantian tahun. Sejarah mencatat, budaya meniup terompet dilakukan menyambut tahun baru Yahudi yang jatuh pada bulan ketujuh pada sistem penanggalan mereka, atau bulan Tisyri.
Namun, ketika bangsa Romawi berkuasa atas bangsa Yahudi, mereka menggunakan kalender Julian yang kemudian berubah menjadi kalender Masehi alias kalender Gregorian. Mereka pun tetap meniupkan terompet pada malam pergantian tahun. Mereka menyebutnya sebagai shofar (serunai), alat musik yang jika ditiup bunyi serupa dengan terompet kertas di Indonesia.
Alat musik ini juga ditiup saat upacara keagamaan serta menjadi penanda dalam peperangan. Namun, kini terompet juga menjadi alat untuk meniupkan sukacita pergantian tahun. (yp)
* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu


Leave a Reply