HO CHI MINH, KalderaNews.com – Di dunia akademik, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00 adalah puncak pencapaian. Gelar tersebut berhasil diraih oleh Chau Hoang Chi Ton, sarjana lulusan baru jurusan Keuangan dan Perbankan dari Universitas Ekonomi Kota Ho Chi Minh (UEH) Vietnam.
Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik di angkatannya. Namun, di balik gemilang prestasinya, jalan Ton setelah lulus ternyata tidak mulus.
Ia harus menghadapi serangkaian penolakan kerja yang menyakitkan, sebuah realitas yang membuktikan bahwa perusahaan tidak selalu mencari yang terbaik, melainkan yang paling tepat.
BACA JUGA:
- Inilah Sosok Bocah Jenius 15 Tahun Laurent Simons Raih PhD Kuantum, Ambisinya Ciptakan ‘Manusia Super’ dan Kalahkan Kematian
- Ubah Homesickness Jadi Kedewasaan, Inspirasi Marsha Ikut Pertukaran Pelajar 3 Bulan ke Australia
- Fatima Bosch Raih Mahkota Miss Universe 2025, Sarjana Desain Fesyen yang Pernah di-Bully di Sekolah
Meski meraih IPK 4.00, Ton mengaku nilai akademik bukanlah tujuan utama. Filosofi belajarnya didasarkan pada rasa ingin tahu yang tinggi dan proses memahami materi.
“Semua orang punya waktu 24 jam. Saya memilih menggunakan waktu saya untuk menyeimbangkan belajar dan kegiatan lain. Menurut saya, itu sepadan,” jelas Ton.
Kunci sukses akademisnya bukan hanya kecerdasan, melainkan manajemen waktu yang konsisten dan menetapkan tujuan jangka panjang. Ia selalu bertanya, “Saya ingin menjadi seperti apa dalam lima atau sepuluh tahun ke depan?”
Rasa ingin tahu yang menonjol membuat Ton tidak sekadar menghafal teori, tetapi aktif mencari tahu bagaimana teori tersebut diterapkan dalam praktik dan dunia bisnis nyata.K
ebiasaan ini pula yang membantunya mendapatkan enam beasiswa prestasi akademik berturut-turut di kampusnya.
Tekanan Ganda: Biaya Kuliah dan Penolakan Kerja
Tekanan terbesar yang dihadapi Ton justru datang dari keraguan diri. Di tahun pertama kuliah, ia khawatir biaya satu semester setara dengan hasil kerja dan tabungan setahun keluarganya. “Apakah aku investasi yang baik untuk orang tuaku?” tanyanya pada diri sendiri.
Setelah lulus, tekanan tersebut beralih ke dunia kerja. Dengan transkrip sempurna, ia membayangkan jalan mulus, namun kenyataan berkata lain.
“Saya sering menerima surat penolakan atau bahkan tidak mendapat respons dari perusahaan. Hal ini membuat saya banyak berpikir dan terkadang meragukan kemampuan sendiri,” ujarnya.
Dari pengalaman ditolak berkali-kali, Ton menyadari pelajaran berharga: perusahaan mencari orang yang cocok untuk posisi tertentu, bukan sekadar orang dengan IPK tertinggi.
Masa Sulit yang Menciptakan ‘Manusia Dewasa’
Alih-alih menyerah, masa sulit itu justru memberinya waktu untuk merenungkan diri, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.
Ton mengakui, momen kehilangan kepercayaan diri terjadi berkali-kali, baik saat tahun pertama kuliah maupun saat melamar kerja. Namun, masa-masa sulit tersebut yang justru membentuknya menjadi lebih dewasa dan berani.
Saat ini, Ton berhasil menapaki jalur karier yang awalnya terasa mustahil. Ia bekerja sebagai auditor di Price Waterhouse Coopers (PwC) Vietnam, salah satu dari empat perusahaan audit terbesar di dunia.
Meskipun auditing bukan bidang studi keahliannya, pekerjaan ini memberinya pengalaman luas, mulai dari standar akuntansi hingga operasional bisnis.
Ke depan, Ton berencana meningkatkan keahliannya melalui sertifikasi keuangan internasional, berharap dapat berkontribusi pada pengembangan sektor keuangan Vietnam.
Kisah Chau Hoang Chi Ton adalah pengingat inspiratif: nilai sempurna hanyalah awal, tetapi kedewasaan, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi di tengah penolakan adalah modal sejati menuju kesuksesan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply