
BOGOR, KalderaNews.com – Belakangan ini, modifikasi cuaca kerap dianggap sebagai “peluru perak” oleh pemerintah untuk menjinakkan banjir dan cuaca ekstrem.
Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, terselip peringatan keras: modifikasi cuaca bukanlah obat ajaib bagi krisis lingkungan di Indonesia.
Sonni Setiawan, pakar meteorologi dari IPB University, mengingatkan bahwa meskipun teknologi ini bermanfaat sebagai langkah mitigasi darurat, modifikasi cuaca sering kali disalahpahami sebagai solusi permanen.
BACA JUGA:
- Mitos Vs Fakta OMC: Mengapa Modifikasi Cuaca Bukan ‘Bom Waktu’ Bagi Atmosfer?
- Mantap! 24 Jam Non Stop Modifikasi Cuaca, BMKG Berhasil Halau Hujan demi Kebut Pembangunan IKN
- Cuaca Ekstrem di Masa Mudik Lebaran 2024, BMGK Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)
Padahal, ia hanyalah “penanganan gejala,” bukan penyembuh penyakit utamanya.
Bergantung pada “Mood” Langit
Salah satu fakta yang sering luput dari perhatian publik adalah bahwa modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan kapan saja. Efektivitasnya sangat mendikte oleh kondisi alam itu sendiri.
“Kalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,” jelas Sonni.
Teknik ini baru bisa bekerja jika ada awan dengan karakteristik tertentu di langit. Jika langit sedang tidak menyediakan “bahan baku” yang cukup, maka upaya menerbangkan pesawat untuk menyemai garam hanya akan berakhir sia-sia.
Boros Anggaran jika Skalanya Terlalu Luas
Ironi lain yang disoroti adalah soal cakupan wilayah. Sonni menegaskan bahwa modifikasi cuaca hanya efektif untuk area yang spesifik dan lokal.
Jika pemerintah memaksa menggunakan cara ini untuk mengamankan wilayah yang sangat luas, risikonya adalah pemborosan duit negara.
“Untuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,” tegasnya dengan lugas.
Jangan Lupa “Penyakit” Aslinya
Yang paling mengkhawatirkan adalah jika ketergantungan pada modifikasi cuaca membuat kita abai pada akar masalah yang sebenarnya.
Sonni mengingatkan bahwa banjir dan longsor bukan hanya urusan langit, tapi juga urusan apa yang terjadi di daratan.
Menurutnya, bencana hidrometeorologi adalah dampak nyata dari:
- Perubahan tata guna lahan yang ugal-ugalan.
- Deforestasi atau penggundulan hutan.
- Kerusakan daerah aliran sungai (DAS).
- Tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan.
“Selama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif,” tambah Sonni.
Ia mendorong agar kebijakan mitigasi tidak berhenti pada solusi instan yang “keren” secara teknologi, tapi harus menyentuh perbaikan lingkungan dan perencanaan wilayah yang matang.
Singkatnya, modifikasi cuaca boleh saja dilakukan sebagai ikhtiar jangka pendek, namun jangan sampai solusi cepat ini justru mengalihkan perhatian kita dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar: memulihkan alam Indonesia.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply