Aksi guru SMKN 2 Garut memotong paksa rambut 18 siswi berujung trauma mendalam hingga ancaman laporan pidana.
GARUT, KalderaNews.com – Sebanyak 18 siswi SMKN 2 Garut dilaporkan mengalami trauma berat setelah rambut mereka dipotong paksa oleh guru.
Ironisnya, razia rambut berwarna tersebut dilakukan secara mendadak, bahkan menyasar siswi yang mengenakan hijab.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, mengecam keras tindakan tersebut.
Ia menilai dalih sekolah bahwa “rambut akan tumbuh lagi” adalah sebuah sesat pikir yang meremehkan kesehatan mental anak.
BACA JUGA:
- Viral, Guru Cukur Paksa Siswi Berhijab di Garut, Begini Kronologinya
- Kasus Guru Honorer Cukur Paksa Rambut Siswa SD, Nyaris Masuk Penjara, Sekarang Begini Nasibnya!
- Sekolah Cukur Rambut Ala Orang Garut Sekarang Ada di Amerika Lho
“Melompati tahapan edukasi dan langsung ‘main gunting’ adalah tindakan primitif dalam dunia pendidikan modern. Pendidikan itu memanusiakan manusia, bukan memangkas harga diri,” tegas Ubaid.
Penolakan maaf dan tuntutan mutasi
Pihak orangtua siswa melalui kuasa hukumnya, Asep Muhidin, menyatakan menolak mentah-mentah permohonan maaf dari pihak sekolah.
Dampak psikologis yang ditimbulkan tidaklah main-main; beberapa siswi dilaporkan takut dan enggan untuk kembali bersekolah.
Para orangtua melayangkan tuntutan tegas, yakni pecat atau mutasi guru yang bersangkutan. Jika tuntutan ini diabaikan, mereka siap menempuh jalur hukum.
Pembelaan pihak sekolah
Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon, mengakui adanya aksi pemotongan tersebut.
Ia berdalih bahwa tim Bimbingan Konseling (BK) bergerak berdasarkan laporan masyarakat mengenai kedisiplinan rambut siswa SMK yang dianggap terlalu bebas dan berwarna.
Meskipun mengakui kesalahan dan menawarkan bantuan untuk memperbaiki kondisi rambut para siswi yang rusak akibat potongan asal-asalan, upaya mediasi ini nampaknya masih menemui jalan buntu.
Pihak sekolah kini berada di bawah tekanan besar untuk mempertanggungjawabkan metode “disiplin barak” yang mereka terapkan di lingkungan pendidikan.
Ditemui Kang Dedi
Sementara, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengaku telah bertemu dengan para orangtua siswi SMKN 2 Garut yang rambutnya diduga dipotong secara paksa oleh gurunya.
“Siswi yang di Garut yang dipotong oleh guru (Bimbingan Konseling) BK-nya kemarin orang tua siswinya sudah bertemu dengan saya,” ujarnya.
Kang Dedi menjelaskan, siswi-siswi yang berjumlah 18 orang tersebut telah mendapatkan penanganan, yaitu merapikan rambut mereka satu per satu di salon.
“Anak-anaknya sudah merapikan rambutnya di salon, kemarin sudah saya kirim mereka ke salon untuk merapikan rambutnya. Seluruhnya ada 18 orang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply