
Program Makan Bergizi Gratis masuki kampus. Cek daftar universitas di Indonesia yang resmi bangun dapur MBG (SPPG) sebagai pusat riset.
JAKARTA, KalderaNews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tidak lagi sekadar menyasar satuan pendidikan dasar dan menengah. Memasuki pertengahan tahun 2026, akselerasi program ini kian masif merambah ke sektor pendidikan tinggi.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kementerandiktisaintek) bersama BGN mengintegrasikan fasilitas pengolahan makanan massal yang dikenal sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG ke dalam lingkungan kampus.
Bukan sekadar tempat memasak, dapur MBG di universitas diplot sebagai teaching factory, wadah mahasiswa melakukan praktik, riset pangan, sekaligus menjadi penyokong kebutuhan gizi masyarakat sekitar.
BACA JUGA:
- Kepala BGN Anjurkan Perguruan Tinggi Mau Bangun Dapur untuk MBG
- BEM Unair Minta MBG Dihentikan, Petisinya Viral di Media Sosial
- Ini Segudang Alasan Penolakan MBG Masuk Kampus
Lantas, kampus mana saja yang berada di garda terdepan dan getol menerima implementasi program nasional ini? Berikut daftar lengkapnya.
Daftar Universitas yang Mengintegrasikan Dapur MBG
1. Universitas Hasanuddin (Unhas)

Universitas Hasanuddin yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan, mencatatkan sejarah sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pertama di Indonesia yang secara resmi mengadopsi dan membangun fasilitas dapur MBG/SPPG.
Terletak di area Kampus Tamalanrea, fasilitas ini dibangun dengan standar regulasi gizi yang ketat, termasuk dilengkapi sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ramah lingkungan. Di Unhas, dapur ini menjadi pusat integrasi riset multidisiplin ilmu, mulai dari ilmu gizi, kesehatan masyarakat, hingga teknologi pertanian.
2. IPB University (Institut Pertanian Bogor)

Sebagai kiblat inovasi pertanian dan pangan di Indonesia, IPB University menjadi salah satu kampus yang paling progresif dalam menyambut program ini. Keterlibatan IPB memperkuat ekosistem sains dalam program MBG.
Para pakar nutrisi dan teknologi pangan dari IPB turun langsung untuk memastikan formula menu, rantai pasok bahan pangan lokal, hingga efisiensi proses pengolahan makanan agar memenuhi standar kalori yang presisi.
3. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)

Di sektor Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) tampil sebagai salah satu pelopor yang getol mendukung program pemenuhan gizi ini.
UMSU mengintegrasikan keberadaan dapur MBG dengan program pengabdian masyarakat. Fasilitas ini menggerakkan dosen dan mahasiswa untuk aktif menyosialisasikan pola hidup sehat sekaligus memproduksi makanan bergizi bagi komunitas di sekitar wilayah kampus.
Mengapa Kampus Dilibatkan dalam Program MBG?
Pakar pendidikan dan kebijakan publik menilai penempatan dapur MBG di lingkungan universitas merupakan langkah strategis yang mewakili program berbasis pengetahuan (knowledge-based program). Ada beberapa alasan utama mengapa kampus menjadi ekosistem yang ideal:
Standardisasi dan Keamanan Pangan: Kampus memiliki laboratorium dan akademisi yang mampu memantau higienitas serta kandungan nutrisi makanan secara berkala.
Optimalisasi Bahan Pangan Lokal: Melalui riset agronomi dan teknologi pangan di universitas, menu dapur MBG dapat memanfaatkan potensi komoditas pangan lokal di tiap-tiap daerah.
Pemberdayaan Mahasiswa: Menjadi sarana magang nyata bagi mahasiswa jurusan gizi, tata boga, teknik industri, hingga manajemen untuk mengelola dapur skala besar secara profesional.
Sinergi kuat antara Badan Gizi Nasional, kementerian terkait, dan jajaran rektorat ini diharapkan dapat melahirkan ekosistem inklusi gizi yang berkelanjutan.
Transformasi kampus menjadi motor penggerak program MBG diproyeksikan akan terus meluas ke berbagai perguruan tinggi lainnya di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026.
Kontra MBG Masuk Kampus
Meskipun program integrasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di lingkungan kampus dinilai inovatif, langkah ini tidak luput dari sorotan kritis para pengamat pendidikan, ahli kebijakan publik, dan ekonom.
Berikut adalah beberapa kritik utama terkait keberadaan dapur MBG di universitas:
1. Risiko Distorsi Fungsi Utama Perguruan Tinggi
Kritik paling tajam menyoroti potensi pergeseran fokus atau distorsi fungsi utama kampus. Kritikus menilai bahwa tugas pokok universitas adalah menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi yang berfokus pada pendidikan akademik, penelitian mendalam, dan pengabdian masyarakat.
Menjadikan area kampus sebagai pusat logistik pengolahan makanan massal dikhawatirkan dapat membebani beban kerja institusi dan mengaburkan prioritas utama dalam mencetak kualitas lulusan akademik.
2. Kompleksitas Tata Kelola Operasional dan Manajemen Logistik
Mengoperasikan dapur skala besar yang harus memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari membutuhkan manajemen rantai pasok (supply chain) yang sangat kompleks.
Kritikus mempertanyakan kesiapan manajemen internal kampus dalam mengelola urusan logistik harian, mulai dari pengadaan bahan baku segar, kontrol kualitas pangan, hingga manajemen sanitasi. Jika tidak dikelola secara profesional terpisah, aktivitas ini berisiko mengganggu ritme operasional administrasi kampus yang sudah ada.
3. Komersialisasi Terselubung dan Transparansi Anggaran
Keterlibatan universitas dalam program dengan alokasi anggaran negara yang sangat besar ini memicu kekhawatiran terkait transparansi keuangan. Pengamat kebijakan publik memperingatkan risiko terjadinya komersialisasi terselubung di lingkungan akademik.
Diperlukan audit yang sangat ketat agar pendanaan untuk fasilitas dapur MBG tidak tumpang tindih dengan anggaran operasional pendidikan, serta memastikan bahwa kerja sama ini tidak sekadar menjadi ajang bagi-bagi proyek atau pencarian keuntungan finansial sepihak bagi birokrasi kampus.
4. Efektivitas Fungsi Teaching Factory vs Realitas Lapangan
Pemerintah mengklaim dapur MBG di kampus berfungsi sebagai teaching factory (wadah praktik mahasiswa). Namun, para pengkritik mempertanyakan seberapa besar nilai edukatif nyata yang didapatkan oleh mahasiswa.
Ada kekhawatiran bahwa alih-alih melakukan riset gizi tingkat tinggi atau inovasi pangan, keterlibatan mahasiswa justru terjebak pada pekerjaan teknis-operasional harian seperti memasak, membungkus, atau mendistribusikan makanan, yang dinilai kurang relevan dengan kompetensi akademik strata tinggi.
5. Dampak Lingkungan dan Limbah di Area Akademik
Aktivitas dapur industri yang memproduksi makanan dalam jumlah masif secara otomatis menghasilkan limbah organik, limbah cair, dan polusi udara (asap masakan) dalam volume besar.
Meskipun beberapa kampus seperti Unhas sudah menyiapkan sistem IPAL, kritikus tetap mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap kenyamanan dan kebersihan lingkungan akademis.
Kegagalan dalam mengelola limbah domestik dapur ini dapat merusak ekosistem kampus yang seharusnya menjadi ruang publik yang bersih dan kondusif untuk belajar.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply