Prabowo Sesumbar Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Analisinya

President Prabowo Subianto
President Prabowo Subianto (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Presiden Prabowo Subianto sebut analisis ekonominya belasan tahun lalu tak terbantahkan oleh profesor manapun di Indonesia.

BANGKALAN, KalderaNews.com – Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan menohok terkait analisis ekonomi yang pernah ditulisnya belasan tahun silam.

Di hadapan para ulama, Prabowo menegaskan bahwa teorinya mengenai kebocoran kekayaan negara belum pernah bisa dipatahkan oleh ahli ekonomi manapun hingga hari ini.

BACA JUGA:

“Saya sudah katakan dalam buku saya belasan tahun yang lalu dan belum pernah dibantah sampai hari ini. Belum ada profesor-profesor ekonomi yang bisa bantah saya, padahal saya bukan ahli ekonomi. Tapi angka adalah angka, matematik adalah matematik,” ujar Prabowo saat menghadiri penutupan Munas Alim Ulama Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Madura, Selasa (23/6/2026).

Borok Underinvoicing: Kekayaan RI Mengalir ke Luar Negeri

Analisis yang dimaksud Prabowo adalah fenomena net outflow of national wealth, alias mengalirnya kekayaan bangsa Indonesia ke luar negeri.

Salah satu biang kerok utamanya adalah praktik culas underinvoicing (laporan kepabeanan yang dipalsukan/kurang bayar) oleh oknum pengusaha.

Prabowo memaparkan data mencengangkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Comtrade:

  • Durasi 34 Tahun: Indonesia mengalami kerugian fantastis mencapai 908 miliar USD atau setara Rp 15.000 triliun akibat laporan palsu para pengusaha.
  • Analogi Tubuh: “Kalau darah kita tiap hari keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati. Begitu kayanya republik kita. Tiap tahun kekayaan kita diambil ke luar, kita masih berdiri,” tegasnya.

Sikat 5 Juta Hektare Lahan Sawit Ilegal

Menanggapi kebocoran yang ugal-ugalan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya kini bergerak agresif melakukan penertiban sumber daya alam (SDA). Langkah konkret yang diklaim telah dieksekusi antara lain:

  • Penyitaan Lahan: Merebut kembali lebih dari 5 juta hektare perkebunan kelapa sawit ilegal yang menabrak hukum (beroperasi di hutan lindung dan memalsukan laporan).
  • Penutupan Tambang: Menutup ratusan tambang tanpa izin (ilegal) di berbagai wilayah.

Menurut Prabowo, pengawasan ketat adalah harga mati karena Indonesia merupakan negara yang sangat kaya, namun pengelolaannya kerap bocor di tengah jalan.

Bandingkan Anggaran Kebocoran vs Pembangunan Desa

Untuk memberikan gambaran nyata kepada para ulama NU yang hadir, Prabowo membandingkan potensi uang negara yang hilang dengan realisasi pembangunan infrastruktur yang baru saja ia resmikan.

Belum lama ini, pemerintah membangun 1.151 kilometer jalan desa dengan anggaran Rp 5,4 triliun.

“5,4 triliun bisa membangun 1.000 kilometer. Bayangkan kalau 20 triliun, berapa ribu jalan yang bisa kita bangun? Berapa puluh ribu sekolah yang bisa kita perbaiki?” ungkap Kepala Negara.

Di akhir pidatonya, Prabowo kembali menekankan bahwa kunci utama untuk menghentikan seluruh “pendarahan” ekonomi ini adalah dengan menciptakan sistem pemerintahan yang bersih.

Ia bertekad menyapu bersih praktik korupsi di kabinetnya agar kekayaan alam Indonesia sepenuhnya kembali ke tangan rakyat.

Inilah Isi Lengkap Pidato Presiden Prabowo

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Mahabesar, Tuhan Mahakuasa, yang memiliki sekalian alam. Hanya kepada-Nya lah kita berdoa dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan. Kita bersyukur atas segala karunia, atas segala kebaikan, kedamaian yang diberikan kepada bangsa kita, dan atas napas dan kesehatan yang masih diberikan kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini pada kegiatan Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026.

Saudara-saudara sekalian,
Yang saya hormati dan saya banggakan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, beserta seluruh jajaran PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yang menyelenggarakan acara mulia ini; 
Dihadiri Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Saudara Ahmad Muzani; 
Ketua Umum PBNU Kiai Haji Yahya Cholil Staquf yang saya hormati; 
Wakil Rais Aam PBNU yang sekaligus adalah Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Bapak Kiai Haji Anwar Iskandar; 
Ketua PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur [sekaligus] Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz yang saya hormati; 
Katib Aam PBNU Kiai Haji Ahmad Said Asrori yang saya hormati; 
Yang saya muliakan para Kiai Alim Ulama, para Ibu Nyai, para Santri dan Santriwati, Kiai Sepuh yang hadir dalam konferensi besar ini.

Gubernur Jawa Timur Saudari Khofifah Indar Parawansa yang sekaligus adalah Ketua Umum Dewan Pembina PP (Pimpinan Pusat) Muslimat NU beserta jajaran Forkopimda Jawa Timur yang hadir; 
Para Menteri Koordinator yang hadir, Panglima TNI, Kapolri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang turut hadir hari ini: Menteri Koordinator Pangan Saudara Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Saudara Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Saudara Bahlil Lahadalia. Kok, tepuk tangannya keras banget. Apa gara-gara harga BBM enggak naik? Yang bikin enggak naik, presiden, bukan Bahlil.

Menteri Sekretaris Negara Saudara Prasetyo Hadi; 
Menteri Sosial yang juga adalah Sekjen PBNU Saudara Saifullah Yusuf, lebih dikenal Gus Ipul. Coba cek pakai kaos kaki, enggak? Waktu saya kenal dulu enggak pakai kaos kaki, sekarang udah jadi menteri.

Menteri Agama Kiai Haji Nasaruddin Umar yang saya hormati ya; 
Menteri Agraria dan Tata Ruang Saudara Nusron Wahid; 
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU Saudari Arifah Choiri Fauzi. 

Ini Kabinet Merah Putih ini banyak sekali NU-nya, ya. NU memang hebat, selalu berada di mana-mana, ya, kan? Semua partai NU hadir. Jadi, NU enggak pernah kalah. Hebat, hebat, ya. Kalau belajar politik, sebetulnya harus dari NU.

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto; Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Coba kalau datang ke NU, tentara pun pakai kopiah, polisi pakai kopiah. Padahal enggak ada dalam peraturan, enggak ada PDL (Pakaian Dinas Lapangan) topinya ini, kan, sudah ditentukan. Berarti harus diubah, ya, PDL atau PDH (Pakaian Dinas Harian) kalau datang ke tempat NU atau Muhammadiyah harus pake kopiah.

Sekretaris Kabinet RI Saudara Teddy Indra Wijaya. Gimana sih ini? [Tadi] Bahlil sekarang Teddy. 

Yang saya hormati para Kiai Mustasyar (Dewan Penasihat), Rais Syuriah (Pengawas), Katib [dan] A’wan NU, para Ulama Terpandang; 
Pimpinan dan Keluarga Besar Ansor Fatayat NU dan Muslimat NU yang saya hormati; 
Para pengurus PBNU, PWNU, dan PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) seluruh Indonesia yang saya hormati dan saya banggakan; 
Para kiai, pengasuh pondok pesantren, dan zuriah keturunan Syaikhona Kholil Bangkalan yang tidak saya sebut satu-satu tanpa mengurangi rasa hormat saya; serta seluruh hadirin undangan dan rekan-rekan pers media yang hadir.

Hadir di sini juga Mantan Ketua Umum PBNU 2010-2021 Kiai Haji Said Aqil Siroj; Rais Syuriah Syekh Ali Akbar Marbun dari Medan, Pengasuh Pesantren Lirboyo Kiai Haji Kafabihi Mahrus, Pengasuh Pesantren Sukorejo Situbondo K.H.R. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pesantren Ora Aji Sleman Kiai Haji Miftah Maulana Habiburrahman, Pengasuh Pesantren Tebuireng Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Sarang Rembang Kiai Haji Ubab Maimoen, Pengasuh Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Nasih Aschal, Bendahara Umum PBNU Gus Gudfan Arif, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Kiai Haji Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Kiai Haji Hasib Wahab Chasbullah, Kiai Haji Abdullah Ubab Maimoen Zubair, tadi sudah, ya; 

Bu Nyai Masruroh, Rais Syuriah PBNU Kiai Haji Profesor Mohammad Nuh, terima kasih;
Pimpinan Pondok Pesantren semuanya yang saya hormati, di sini ada 67 jadi saya tidak sebut satu-satu tanpa mengurangi rasa hormat saya, kecuali diperintah oleh Rais Aam saya bacakan semua ini.

Saudara-saudara,
Saya ingin ucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar diberikan kepada saya bisa hadir di tengah-tengah Saudara-saudara, di acara Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026. Terima kasih atas sambutan yang luar biasa. Memang saya merasa selalu nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar kepada saya. Masalah memang saya kenal keluarga besar Nahdlatul Ulama dari sejak kecil karena dulu saya tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta, dan eyang saya, eyang putri saya memang dari NU. Dan juga, ada satu ciri khas yang saya dari dulu perhatikan bahwa Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta tanah air. Jadi, agamis tapi nasionalis dan patriotik. Sampai-sampai lagunya NU yang ditulis atau dibuat sebelum Indonesia merdeka, tapi sudah mengandung nilai-nilai cinta tanah air yang luar biasa, dan ini masih dipertahankan setiap acara NU saya perhatikan lagu Syubbanul Wathon tidak pernah tidak dinyanyikan. Terima kasih. Bahkan nyanyinya itu tangannya pun harus kepalan, kepalan, ini luar biasa ini. Saya, ini belum ada Kopassus, NU sudah lebih dari Kopassus. Sekarang, apa itu, ya, TNI, kan, ada itu kalau foto salam komando. NU sudah dulu, sebelum kemerdekaan sudah salam komando.

Jadi, saya terima kasih, saya diundang dan terima kasih atas dukungan keluarga besar NU. Keluarga besar NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator, faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara, Saudara-saudara sekalian. Karena itu, saya yakin dan percaya bahwa Nahdlatul Ulama akan selalu punya peranan yang positif, yang baik untuk bangsa dan negara. Nahdlatul Ulama organisasi para kyai, para ulama. Para kyai dan para ulama adalah, menurut saya, tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat, paling dekat apalagi dengan rakyat di pedesaan. Karena itu, para kyai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kyai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah. Karena itu, ada suatu perkembangan alamiah karena tentara, pejuang, polisi, dan aparat juga berasal dari rakyat. Karena itu, ulama, pemerintahan, tentara, kepolisian sesungguhnya paham dan mengerti perasaan rakyat. Boleh lanjut? Harus patuh sama kyai kalau di sini. Di istana nanti kyai patuh sama saya gitu. Itu namanya ulama sama umara bersatu untuk negara dan bangsa.

Saudara-saudara sekalian,
Sesungguhnya kita mengerti apa yang dirasakan rakyat kita. Saudara-saudara sekalian, saya dilantik tanggal 20 Oktober 2024 di hadapan seluruh rakyat. Saya disumpah untuk menjalankan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan segala perundangan-undangan yang berlaku. Saya disumpah, saya harus menjalankan dan kita tidak perlu pura-pura, kita tidak perlu bicara manis-manis, karena itu memang sering bangsa Indonesia suka bicara yang manis-manis di depan. Kita kadang-kadang tidak mau bicara apa adanya tapi saya kira sudah saatnya kita bicara apa adanya. Bahwa setelah sekian puluh tahun kita merdeka, apalagi sesudah saya menjadi presiden saya melihat data-data, fakta-fakta saya merasa bahwa sesungguhnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang kita, yang kita membiarkan. Penyimpangan-penyimpangan ini, menurut keyakinan saya, inilah yang membuat bangsa kita dalam keadaan sekarang, di mana kita harus mengakui terlalu banyak kekayaan negara yang hilang, yang diambil dari hak rakyat, hak bangsa. Memperkaya sedikit orang saja, bahkan kekayaan tersebut terlalu banyak mengalir ke luar negeri, tidak tinggal di bangsa Indonesia. Jadi, kesulitan yang kita alami sekarang, kita harus berani menghadapi, kita harus berani menghadapi kenyataan. 

Karena itu, saya di depan konferensi besar ini, walaupun penutupan, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan beberapa pandangan saya. Yang pertama, hanya bangsa yang bodoh yang akan meneruskan suatu sistem di mana kekayaan bangsa tidak tinggal di bangsa itu. Saudara-saudara sekalian, saya baru kurang lebih 18 bulan memimpin pemerintahan. Saya sendiri, saya sendiri syok, terkejut, sedih melihat berapa besar kekayaan kita yang hilang selama ini. Ini bukan kita cari kesalahan. Kita anggaplah ini suatu kelalaian kita bersama. Tapi, saya disumpah untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat, karena itu saya harus melaksanakan yang terbaik yang bisa saya laksanakan supaya saya tidak ingkar sumpah saya kepada bangsa dan rakyat.

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin memberi beberapa data, karena para ulama adalah pemimpin yang paling dekat sama rakyat. Para ulama berhak untuk mengerti. Saudara-saudara sekalian, saya baru saja tadi meresmikan 1.151 kilometer jalan, jalan desa, jalan daerah.  Seribu, seribu kilometer jalan ini memakan anggaran 5,4 triliun. 5,4 triliun bisa membangun seribu kilometer. Bayangkan kalau 20 triliun, berapa ribu jalan yang bisa kita bangun, berapa ribu jembatan bisa kita bangun untuk rakyat kita, berapa puluh ribu sekolah yang bisa kita perbaiki. Saudara-saudara, lima triliun, seribu kilometer. Kita butuh ribuan kilometer jalan, kita butuh ribuan jembatan, kita butuh ribuan kilometer kereta api.

Saudara-saudara sekalian,
Dan, begitu banyak uang kita menguap, hilang. Dan, ini pemerintah yang saya pimpin, saya berdekat untuk berbuat yang terbaik untuk menghentikan kebocoran-kebocoran ini. Pemerintah saya telah merebut kembali, menguasai kembali lebih dari lima juta hektare kebun kelapa sawit yang melanggar hukum, yang tidak sesuai peraturan, yang bikin kebun di hutan lindung, yang memalsukan laporan. Kita telah menutup ratusan tambang-tambang tanpa izin, tambang-tambang tanpa izin. Jadi dianggap seolah-olah enggak ada negara. Ada satu tambang yang sudah dijalankan delapan tahun tanpa izin, tenang saja dia. Dan, ada tambang-tambang yang tiap bulan keluar ratusan miliar Rupiah, tiap bulan. Emas, perak, logam-logam yang sangat mahal. Sampai hari ini penyelundupan masih berjalan. Sudah kita kerahkan angkatan laut, sudah kita kerahkan bea cukai, sudah kita kerahkan ribuan prajurit, masih saja, Saudara-saudara. Jadi, memang usaha ini bukan usaha yang ringan. Negara kita besar, negara kita luas, dan negara kita sangat, sangat, sangat kaya. Karena itu, kuncinya adalah pemerintah harus bersih, pemerintah harus benar-benar tidak boleh korup, tidak boleh ada korupsi di pemerintah Republik Indonesia. Ini tidak ringan, ini tidak ringan. Saya mengerti ini tidak ringan. Tapi, apa boleh buat, apapun harus kita kerjakan untuk supaya negara kita selamat. Tidak ada negara yang bisa selamat kalau resources-nya, sumber-sumber dayanya diambil terus. Rakyat banyak yang miskin.

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin menampilkan beberapa angka. Angka ini mungkin tidak menyenangkan bagi banyak pihak, tapi harus kita hadapi. Saudara-saudara, kita mengerti dan kita paham bahwa selama tujuh tahun belakangan ini dikatakan bahwa ekonomi kita tumbuh lima persen tiap tahun. Tujuh tahun kali lima, berarti 35 persen pertumbuhannya. Logikanya selama tujuh tahun, Indonesia tambah kaya 30 persen, 35 persen. Tapi kenyataannya, itu yang saya katakan saya merasa ditohok. Waktu saya jadi presiden ini, data ini, muncul katakanlah dua bulan setelah jadi presiden. Kenyataan bahwa setelah tujuh tahun tumbuh lima persen, masa penduduk miskin tambah. Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini, kan, sesuatu yang aneh, yang anomali. Yang kelas menengah, yang sudah tadinya lepas dari kemiskinan, turun. Saudara-saudara, katanya negara tambah kaya 30 persen, kok, rakyat miskin tambah kemudian kelas menengah berkurang. Dan, ini juga yang harus kita waspadai, bahwa yang tambah kaya ternyata hanya segelintir orang.

Jadi saya kembali, Saudara-saudara, bahwa akhirnya harus kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru. Sistem ini keliru. Karena apa? Kalau orang miskin tambah, yang menengah juga berkurang, berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang saja. Dan, ini tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi kita, cita-cita kemerdekaan kita, tidak sesuai dengan keinginan pendiri-pendiri bangsa kita. Kita merdeka, kita ingin rakyat kita hidup dalam keadilan dan kemakmuran, dan kemakmuran tidak bisa dengan sistem yang keliru seperti ini. Ini yang saya yakini dan ini yang akan saya kerjakan untuk saya penuhi sumpah saya kepada rakyat, untuk menjaga kepentingan rakyat sesuai dengan sumpah saya waktu saya dilantik, Saudara-saudara sekalian.

Saya sudah katakan dalam buku saya belasan tahun yang lalu dan belum pernah dibantah sampai hari ini. Belum ada profesor-profesor ekonomi yang bisa bantah saya, padahal saya bukan ahli ekonomi. Tapi angka adalah angka, matematik adalah matematik. 

Saudara-saudara,
Apa yang saya sampaikan belasan tahun yang lalu yang terjadi di Indonesia ini adalah mengalir ke luar kekayaan bangsa Indonesia ke luar negeri. Dalam bahasa yang keren, Bahasa Inggris, yang terjadi adalah net outflow of national wealth. Kekayaan nasional kita mengalir ke luar negeri. Dan, sekarang ini, ini diakui oleh PBB, angka-angka PBB mendukung premis saya sekian belas tahun yang lalu. Dari PBB, Comtrade, ya, United Nations Comtrade, yang diolah oleh Dewan Ekonomi Nasional kita. Kalau kita lihat selama 22 tahun, bangsa Indonesia sebagai bangsa sebenarnya telah untung. Hanya lima tahun kita tidak untung, agak kurang. Tapi dari 22 tahun, 17 tahun kita untung, dan keuntungan kita adalah 436 miliar Dolar selama 22 tahun, kali 17 ribu, berapa triliun? Kemudian kalau kita lihat, selama 42 tahun kekayaan kita sebenarnya adalah 683 miliar Dolar. Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya, karena kekayaannya ke luar. Kalau darah kita, tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati. Begitu kayanya republik kita. Tiap tahun kekayaan kita diambil ke luar, kita masih berdiri, Saudara-saudara sekalian. Jadi, kita lihat dari neraca itu, inflow outflow. Kita lihat di sini selama 22 tahun, uang yang ke luar itu 343 miliar. Jadi keuntungan 436, yang keluar 343, yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang ke luar. Ini angka di depan, di depan kita.

Saudara-saudara sekalian,
Apa yang harus kita ambil kesimpulan? Ternyata, sekali lagi dari PBB, yang terjadi adalah yang disebut under-invoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya, negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi 908 miliar Dolar selama 34 tahun atau 15 ribu triliun, 15 ribu triliun.

Saudara-saudara,
Ini semua data ke luar. Saya ingin sampaikan dalam forum ini karena saya ingin Saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat harus mengerti. Kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang? Ya, kan? Karena uangnya enggak ada, diambil terus. Kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih 150 miliar setiap tahun, 2.500 triliun setiap tahun, Saudara-saudara sekalian. Dan, ini sedang saya perbaiki semua.

Saudara-saudara,
Ada perusahaan milik negara, BUMN, jumlahnya luar biasa. Waktu saya jadi presiden saya baru tahu. Saya kira perusahaan BUMN itu jumlahnya 300, waktu saya jadi presiden baru saya tahu jumlahnya seribu lebih. Sekarang kita sudah tutup kurang lebih, berapa Mensesneg, kurang lebih? Sudah 240 yang kita tutup. Enggak ada yang untung, rugi terus. Perusahaan negara milik rakyat, 200, kalau tidak salah kita ujungnya akan menutup kurang lebih 800 perusahaan negara, minimal 700, lah. Anda bisa bayangkan yang sudah kita tutup 240. Ya benar, Mensesneg, 240? Itu kalau dihitung umpamanya empat direksi sama empat komisaris, itu delapan kali 200, 1.600. Kalau gajinya masing-masing Rp50 juta sebulan, berapa itu? Dan, ada yang gajinya bisa di atas itu. Sudah rugi, minta bonus lagi.

Saudara-saudara,
Sudah kita tutup. Kita menghemat triliunan hanya dari menutup perusahaan-perusahaan yang enggak benar, dan itu caranya para direksi itu menutupi korupsi mereka. 

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*