
Mendikdasmen ingatkan bahaya laten gadget: Konsentrasi hancur hingga risiko gangguan jiwa mengintai generasi muda kita.
BANYUMAS, KalderaNews.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyoroti merosotnya kemampuan konsentrasi siswa akibat paparan media sosial dan game yang berlebihan.
Dalam acara peresmian revitalisasi sekolah di Banyumas, Jawa Tengah, Menteri Mu’ti mengungkapkan bahwa durasi perhatian (attention span) anak-anak masa kini mengalami penurunan drastis.
BACA JUGA:
- Inilah Daftar Lengkap Medsos yang Akan Diblokir bagi Anak di Bawah 16 Tahun
- Medsos Bakal Terlarang Bagi Anak di Bawah 16 Tahun Catat Tanggal Mainnya!
- Yuk Kenali Istilah “Brain Rot”, Kata Paling Populer Tahun 2024, Otak “Membusuk” Gegara Konten Medsos
Fenomena “pendek perhatian”
Menteri Mu’ti menjelaskan bahwa kecanduan gadget membuat pola pikir anak menjadi tidak fokus. Efek ini terlihat jelas dalam komunikasi sehari-hari.
“Dampak yang langsung berkaitan dengan kecerdasan adalah pendeknya perhatian. Kita ajak bicara belum selesai, mereka sudah ganti tema,” ujar Mu’ti.
Kondisi ini dipicu oleh stimulasi berlebih dari konten media sosial dan game yang serba cepat, sehingga otak anak kesulitan memproses informasi yang membutuhkan fokus mendalam atau durasi lama.
Ancaman mental
Bukan sekadar masalah fokus, dampak penggunaan teknologi yang tak terkontrol ini telah merambah ke wilayah kesehatan mental.
Mengutip data WHO dan Unicef, Mu’ti memaparkan fakta mengerikan:
- Satu dari 10 orang terindikasi mengidap gangguan mental (ringan hingga berat).
- Meningkatnya tren angka bunuh diri di kalangan anak-anak akibat tekanan di dunia maya.
Menanggapi darurat nasional ini, pemerintah mengambil langkah ekstrem.
Kementerian Pendidikan bersama enam kementerian lainnya resmi menerbitkan aturan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Lebih dari sekadar fasilitas
Menteri Mu’ti menegaskan bahwa memperbaiki kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun gedung sekolah yang megah atau sarana yang lengkap.
Kunci perbaikan pendidikan ke depan meliputi:
- Pendekatan belajar dengan metode pengajaran yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.
- Pendidikan karakter untuk memperkuat mental dan etika siswa di tengah gempuran digital.
- Budaya sekolah aman untuk menciptakan lingkungan belajar yang melindungi anak dari dampak negatif teknologi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply